Dorong pertumbuhan ekonomi Jatim, PLN genjot keandalan suplai listrik

Selasa, 20 Desember 2016 | 17:25 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: PT PLN (Persero) berkomitmen mengawal kinerja ekonomi Provinsi Jawa Timur dengan meningkatkan keandalan suplai listrik di seluruh wilayah Jatim. Peningkatan keandalan ini direalisasikan melalui pembangunan jaringan tegangan ekstra tinggi 500 KV hingga tegangan menengah 20 KV dan tegangan rendah 220 V atau 380 V.

Kepala Divisi Pengembangan Regional Jawa Bagian Timur dan Bali PT PLN Persero, Paranai Suhasfan mengatakan, saat ini suplai listrik untuk wilayah Jatim sangat besar. Daya mampu di Jatim mencapai 9.000 MW, sementara beban puncak di Jatim hanya dikisaran 5.263 MW yang terjadi pada Oktober 2016 kemarin. Selain itu, listrik di Jatim juga disalurkan ke Jawa Tengah dan Jawa Barat yang mencapai sekitar 1.364 MW dan ke Bali sekitar 300 MW.

"Artinya, surplus cadangan listrik di Jatim mencapai sekitar 2.000 MW. Masih sangat mampu menyuplai kebutuhan listrik di Jatim dengan tingkat kenaikan yang mencapai 500 MW per tahun. Untuk itu saat ini kami lebih berkonsentrasi meningkatkan keandalan suplai listrik dengan membangun gardu induk dan jaringan listrik, mulai dari jaringan tegangan ekstra tinggi, tegangan menengah dan tegangan rendah," ujar Paranai Suhasfan usai acara Multi Stakeholder Forum yang digelar oleh PT PLN Persero Regional Jawa bagian Timur dan Bali di Surabaya, Selasa (20/12/2016).

Untuk pembangunan jaringan tegangan ekstra tinggi 500 KV dari Grati Pasuruan hingga Gardu Induk Surabaya Selatan di Wonorejo Surabaya misalnya, ditargetkan selesai pada tahun 2019. Proyek ini menurut pengakuannya sempat tertunda selama 18 tahun dan baru terealisasi di tahun ini.

"Gardu Induknya sudah ada, tinggal jaringan yang belum. Pembangunan jaringan tersebut memang lebih rumit karena melewati Bandara Juanda. Jadi, kabel tidak bisa dibentangkan diatas karena akan menghalangi pesawat yang akan lepas landas ataupun yang akan landing. Karena itu kami akan membangun jaringan dengan menanamnya dibawah tanah agar tidak mengganggu proyek airport," terangnya.

Untuk itu, PLN harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Karena investasi pembangunan jaringan tegangan ekstra tinggi yang ditanam dibawah tanah biayanya bisa mencapai tiga kali lipat dibanding dengan jaringan kabel yang dibentangkan diatas.

"Investasi yang dibutuhkan sekitar Rp 2 triliun hingga Rp 3 triliun. Karena pembangunan jaringan bawah tanah ini memang cukup mahal. Kalau pembangunan jaringan atas, mungkin hanya sekitar satu per tiganya saja," ujarnya.

Jika GI Surabaya Selatan tersebut sudah beroperasi, maka keandalan suplai listrik di Surabaya akan semakin kuat. Karena sejauh ini, kebutuhan listrik Surabaya hanya disuplai dari Gresik dan Ngimbang. "Ini akan memperkuat sistem kelistrikan Surabaya. Jika misalnya listrik Surabaya padam, maka bisa langsung disupport dari Grati," tegasnya.

Selain jaringan tegangan ekstra tinggi ke GI Surabaya Selatan, PLN juga tengah mengerjakan pembangunan jaringan ekstra tinggi dari Paiton ke Bali dengan membangun tower setinggi 340 meter di daerah Banyuwangi dan Bali.

"Sekarang masih dalam tahap penentuan lokasi tower dan kami menargetkan akan beroperasi di tahun 2019. Sementara investasinya juga mencapai triliunan rupiah," tambah Paranai Suhasfan.

Selain kedua proyek tersebut, PLN juga akan membangun jaringan menengan dan rendah sepanjang 1600 kilometer di seluruh Jatim hingga tahun 2017. Dan untuk wilayah Madura, dalam jangka dekat PLN akan menambah dua kabel bawah jembatan Suramadu dengan kapastas 200 MW. Sehingga nantinya, suplai listrik ke wilayah Madura yang melewati empat kabel bawah Suramadu akan mencapai 400 MW.

"Kami juga berancana untuk membangun PLTGU di wilayah Madura bagian Selatan di daerah Sumenep dan Utara kira-kira di daerah Batu Kerbau dengan kapasitas 50 MW," tambahnya.

Sementara itu, General Manager PT PLN Distribusi Jatim, Yugo Riatmo mengatakan, peningkatan keandalan suplai listrik memang menjadi faktor utama yang dibutuhkan panggan tetapi juga menjadi faktor paling sulit untuk direalisasikan. Karena peningkatan keandalan listrik berkaitan dengan banyak pihak dan masyarakat, misalnya pembebasan lahan untuk pembangunan GI dan kerelaan masyarakat untuk dilalui kabel jaringan tegangan ekstra tinggi.

"Inilah tujun kami menggelar acara ini. Kami ingin acara ini menjadi wadah berkumpulnya seluruh pemangku kepentingan untuk menyamakan persepsi sehingga nantinya pembangunan infrastruktur kelistrikan bisa lancar dan tidak ada kendala," ujar Yugo.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah ( Bappeda) Jatim, Fatah Yasin mengatakan bahwa PLN harus merespon tingginya kebutuhan listrik Jatim yang cukup besar, utamanya di daerah segi tiga emas yang meliputi Tuban, Bojonegoro dan Lomongan serta daerah sepanjang Pantai Utara. Karena pembangunan industri akan sangat besar disana.

"PLN harus melihat rencana tata ruang provinsi Jatim. Karena dukungan suplai listrik menjadi fakror utama dalam pertumbuhan industri dan ekonomi daerah," kata Fatah.

Ia juga mengatakan bahwa dengan dukungan sistem kelistrikan PLN, Pemprov yakin kinerja ekonomi Jatim akan semakin membaik. Di tahun ini, hingga akhir 2016 kinerja ekonomi Jatim diyakini bisa mencapai 5,6%. Sementara di tahun depan, kinerjanya diproyeksikan akan naik di level 5,7% hingga 6%.kbc6

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: