Kisah Dimas, penggila futsal yang harus tangani bisnis batubara milik keluarga di usia muda

Rabu, 21 Desember 2016 | 14:30 WIB ET
 Dimas Bagus Agung Kurniawan
Dimas Bagus Agung Kurniawan

DIPERCAYA menangani bisnis keluarga di usia muda tidak akan pernah mudah bagi seorang pengusaha. Banyak tantangan dan hal baru yang harus dipelajari dengan cepat. Belum lagi seringkali dia dipandang sebelah mata oleh kolega bisnis. Hal itu membuat pengusaha muda yang menangani bisnis keluarga harus bisa membuktikan kemampuannya di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat.

Kondisi inilah yang pernah dialami Dimas Bagus Agung Kurniawan. Pengusaha batubara sukses ini sempat mengalami masa-masa sulit ketika mulai berkecimpung di bisnis yang dibesarkan orang tuanya tersebut.

“Awalnya memang tidak mudah. Banyak hal harus dipelajari, sedangkan kita masih belum punya banyak pengalaman. Banyak yang harus dikorbankan untuk belajar bisnis,” ujar pria yang menjabat Wakil Bendahara Umum III BPD HIPMI Jatim ini.

Dimas harus sering bepergian. Dia kuliah di Surabaya, sedangkan bisnisnya ada di Kalimantan. Hal tersebut membuat kuliahnya sempat tercecer. Dua kali hampir putus kuliah merupakan harga yang harus dibayarnya ketika mulai berkecimpung di dunia bisnis. Meski demikian, Dimas menolak menyerah. Ia terus belajar dan berusaha memperbesar bisnisnya. Tantangan dalam bisnis pun bisa dilewatinya.

Naik turun harga batubara di pasar yang bak roller coaster juga turut mengasah insting bisnisnya menghadapi masa-masa sulit. Perusahaanya, PT Baskhara Sinar Sakti, memang fokus menggarap pasar batubara dalam negeri dengan menyuplai kebutuhan pembangkit listrik, salah satunya untuk PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Ketika harga batubara untuk ekspor sempat anjlok pada 2-3 tahun belakangan, para pemain besar batubara masuk ke pasar dalam negeri. Pasar yang dulunya cuma diisi 3 pemain tiba-tiba diisi 10 pemain, ya kami bertahan saja. Sekarang ketika harga ekspor sudah mulai naik, pemain ekspor mulai meninggalkan pasar lokal dan kami bisa berbisnis seperti awal lagi,” katanya.

Menghadapi kondisi bisnis yang tidak menentu seperti itu, membuat pemegang gelar Magister Kenotariatan dari Universitas Airlangga ini banyak belajar. Bagaimana menjaga hubungan baik dengan stakeholder lain di bisnis yang digeluti menjadi penting untuk kelangsungan bisnis di masa depan.

“Satu prinsip utama yang saya pegang dalam berbisnis adalah selalu jaga hubungan baik dengan siapapun. Jangan sekali-sekali membuat permusuhan meski hanya dengan satu orang, karena itu bisa menjegal bisnis kita di masa depan,” katanya.  

Menjaga hubungan baik, menurutnya lebih penting daripada mengejar keuntungan semata. Lebih baik kehilangan uang daripada kehilangan kawan, menurut prinsipnya.

Selain berkecimpung di dunia bisnis, bapak satu anak ini belakangan juga aktif terjun di dunia olahraga khususnya futsal. Tak tanggung-tanggung, Ia membangun sebuah lapangan futsal terbaik di Surabaya dengan standar Internasional. Biaya pembuatan lapangan ini jauh lebih mahal daripada biaya membangun lapangan futsal biasa.

“Biayanya bisa 2-3 kali lipat dari biaya bikin lapangan futsal biasa. Tapi ini memang ini tujuannya bukan untuk bisnis semata, ini juga proyek sosial. Saya ingin bagaimana anak-anak muda yang punya passion di Futsal bisa menyalurkan hobi mereka dengan baik dan benar. Karena sebagai muslim saya yakin jika semakin banyak kita memberi maka akan semakin banyak yang kita dapat, asal kita ikhlas,” tutur pria yang memiliki tim futsal profesional Bintang Timur Surabaya ini. kbc8

Bagikan artikel ini: