Ada Pilkada, premi asuransi terorisme diprediksi capai Rp7 miliar

Jum'at, 23 Desember 2016 | 14:24 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Jelang penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (Pilkada) tahun depan, premi asuransi terorisme dan sabotase diprediksi mencapai Rp7 miliar. Nilai ini tidak jauh berbeda dibandingkan dengan proyeksi akhir tahun Rp7 miliar.

“Biasanya ketika ada kejadian, ramai-ramai masyarakat beli. Kalau sepi-sepi ya tidak beli. Tetapi, tahun depan ada peristiwa politik, pilkada serentak,” terang Robby Loho, Ketua Dewan Pengurus Konsorsium Asuransi Terorisme dan Sabotase, Kamis (22/12/2016).

Sebagai gambaran, premi asuransi terorisme dan sabotase pada 2011 silam mencapai Rp6,98 miliar. Kemudian, menjadi Rp6,09 miliar pada 2012, Rp6,53 miliar pada 2013, Rp6,58 miliar pada 2014, dan Rp5,58 miliar pada akhir tahun lalu.

Tahun ini, Robby memperkirakan, premi yang dihimpun dari asuransi terorisme dan sabotase mencapai Rp7 miliar, dengan realisasi per September 2016 sebesar Rp3,5 miliar.

Adapun, Konsorsium Asuransi Terorisme dan Sabotase beranggotakan 52 perusahaan asuransi kerugian dan empat perusahaan reasuransi. Seluruh anggota menyertakan modal sesuai kemampuan masing-masing yang dihitung sebagai kapasitas bersama.

“Tahun ini, kapasitas konsorsium mencapai US$10,83 juta atau setara Rp140,81 miliar. Naik dari kapasitas tahun lalu yang sebesar Rp125 miliar. Namun, kenaikan tersebut karena selisih mata uang dolar AS yang menguat terhadap rupiah,” ujarnya.

Kalau kapasitasnya bisa lebih besar, lanjut Arizal E R, Ketua Komite Teknik Konsorsium Asuransi Terorisme dan Sabotase, premi yang dihimpun juga bisa lebih besar. Sayang, kapasitas yang ada saat ini sesuai kantong masing-masing perusahaan asuransi.

“Kalau ada aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menempatkan kapasitas asuransi pertanggungan di dalam negeri untuk asuransi terorisme, premi yang kami dapatkan bisa dua kali lipat. Di pasar, ada Rp50 miliar-Rp60 miliar potensi bisnisnya, tetapi kan kami juga lihat kapasitas kami belum mampu,” imbuhnya.

Adapun, hingga saat ini, konsorsium belum pernah menerima klaim. Klaimnya tercatat nol. Tak heran dana jaminan konsorsium tembus Rp1,30 miliar, dengan total investasi Rp46,65 miliar yang merupakan akumulasi dari dana jaminan sejak konsorsium terbentuk. kbc10

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: