Komisi VI DPR RI minta PG Kanigoro tetap beroperasi

Kamis, 29 Desember 2016 | 15:21 WIB ET
Bambang Haryo
Bambang Haryo

MADIUN, kabarbisnis.com: Anggota Komisi VI DPR RI, Bambang Haryo menyatakan keberatannya dan meminta PT Perkebunan Nusnatara XI (PTPN XI) untuk mempertimbangkan agar PG Kanigoro tidak dialihfungsikan apalagi ditutup karena menyangkut hidup banyak masyarakat di Madiun.

"Saya tidak ingin pabrik ditutup, kita harus bersyukur punya PG yang SDM nya murah. Bayangkan upah di Surabaya atau Pasuruan. Harusnya di sini yang dikembangkan, dan mempertahankan sektor pangan kita. Alat produksi harus digunakan untuk kepentingan produksi, PG tidak boleh dialihfungsikan untuk apapun,"  kata Bambang Haryo saat melakukan kunjungan kerja di PG Kanigoro Madiun, Rabu (28/12/2016) petang.

Ia menuturkan, pemerintah dalam hal ini Kementeria Pertanian harus bertanggung jawab untuk menyediakan bahan baku dengan caa membuat tata ruang yang baik, on farm tebu harus dipertahankan karena kebutuhan gula Indonesia mencapai 5 juta ton, tapi baru bisa dipenuhi 2 juta ton dan 3 juta ton nya impor.

Diketahui, PTPN XI berencana melakukan program regrouping terhadap 6 Pabrik Gula (PG) untuk dialihfungsikan menjadi workshop atau house of maintenance dan wisata heritage. Ke 6 PG berkapasitas kecil yang akan berubah fungsi itu adalah PG Kanigoro Madiun, PG Olean, PG Wringin Anom, PG Pandjie, PG Rejosari dan PG Purwodadi.

Direktur Utama PTPN XI Dolly Parlagutan Pulungan mengatakan rencana alih fungsi tersebut merupakan permintaan dari Kementerian BUMN guna efisiensi pabrik. Meski mengalihfungsikan PG, tetapi perseroan akan memperbesar kapasitas PG lain yang memiliki potensi besar.

"Jadi pabrik tidak ditutup, tapi hanya berubah fungsi, misalnya di PG Olean Situbondo akan jadi wisata heritage, lalu di bagian barat ada PG Kanigoro akan jadi house of maintenance, di mana karyawan dan masyarakat sekitar akan tetap diberdayakan," ujarnya.

Menurut Dolly, keenam pabrik tersebut tidak bisa dipaksakan terus untuk memproduksi gula karena dalam skala ekonomi tidak mungkin dilakukan, bukan hanya kapasitasnya yang kecil tetapi juga kurangnya suplai tebu ke pabrik tersebut.

“Kalau memang dipaksakan, skala ekonominya tidak mungkin karena semua pabrik itu tebunya tidak cukup. Kalau tebu mencukupi, kami siap terus memproduksi gula,” imbuhnya.

Sementara iru, General Manager PG Kanigoro, Prijastono menjelaskan dalam 3 tahun terakhir ini PG Kanigoro mengalami kerugian, bahkan tahun ini tidak mampu produksi akibat tidak adanya pasokan tebu dari petani.

"Kapasitas PG Kanigoro ini 2.000 TCD atau butuh 300.000 ton tebu per tahun, tetapi selama ini suplainya hanya mampu 100.000 ton tebu. Bahkan tahun depan proyeksi pasokan tebu yang akan digiling hanya 70.000 ton," katanya.

Di musim giling tebu 2015 misalnya, di PG Kanigoro hanya bisa berlangsung 60 hari karena kurangnya bahan baku tebu. Bahkan di tahun ini, PG tersebut tidak melakukan giking karena minimnya pasokan bahan baku. Akibatnya, sejak tahjn 2013, PG Kanigoro menderita kerugian yang cukup besar. Di tahun 2013, kerugian mencapai Rp 53,450 miliar, tahun 2014 mencapao Rp 34,298 miliar dan di 2015 kerugian mencapai Rp 20,519 miliar.

"Kami sudah berupaya melakukan efisiensi dan perbaikan di sisi PG, dan kondisi PG saat ini cukup bagus. Ini terbukti dengan tingginya rendemen di tahin 2015 yangencapai 8,1%. Tetapi karena pasokan tebunya memang sangat minim, kerugian itu masih tetap terjadi," tambahnya.

Prijastono menjelaskan kurangnya pasokan tebu di wilayah barat ini disebabkan oleh perubahan wilayah kota di mana sudah banyak alih fungsi lahan menjadi perumahan dan lainnya.

"Tebu kurang karena lingkungannya menjadi perkotaan, lalu tebu yang masih ada protasnya pun turun. Selain itu di wilayah barat ini juga banyak pabrik gula sehingga berebut pasokan bahan baku tebu," imbuhnya.

Guna memenuhi kebutuhan tebu tahun depan, PTPN XI telah bekerja sama dengan Perhutani untuk perluasan lahan tanam tebu seluas 1.000 ha dan dengan wilayah lain sekitar 1.200 ha.

"Kalau memang pasokan cukup, kami siap untuk tetap beroperasi. Dan semua pekerja disini sebenarnya juga ingin PG ini tetap bisa beroperasi," pungkasnya.kbc6

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: