Pemerintah genjot sektor wisata, okupansi hotel bakal tumbuh 10%

Jum'at, 30 Desember 2016 | 08:49 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Gencarnya promosi wisata baik oleh swasta maupun pemerintah diyakini ikut mengerek tingkat keterisian (okupansi) hotel di Tanah Air. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) memperkirakan okupansi hotel tahun depan dapat meningkat sekitar 10% dibandingkan dengan tahun ini yang mencapai sekitar 60% hingga 65%.

Ketua Umum PHRI, Hariyadi B. Sukamdani, Kamis (29/12/2016) mengatakan, secara umum PHRI melihat kinerja industri hotel tahun depan akan lebih cerah dibandingkan dengan tahun ini.

Selain karena perekonomian yang diprediksi mulai membaik, perbaikan kinerja industri perhotelan juga karena arus wisatawan asing yang trennya mulai meningkat.

Tahun depan, PHRI akan kembali menggelar program Hore Vaganza atau Hotel dan Restoran Vaganza. PHRI bekerja sama dengan maskapai penerbangan untuk mengintegrasikan penjualan tiket pesawat dan hotel dalam program promosi bersama.

Program ini sudah dijalankan tiga kali dengan hasil yang terus meningkat. Program pertama dilakukan pada Lebaran 2015 dan berhasil terjual sekitar 6.000 paket.

Program kedua dilaksanakan pada momen hari raya Imlek 2016 dengan penjualan sekitar 11.000 paket. Sementara itu, program ketiga dilaksanakan sepanjang Ramadan 2016 dan terjual 18.000 paket.

Hariyadi menuturkan, tahun depan program ini akan kembali diadakan dengan menggandeng maskapai penerbangan berbiaya murah Citilink.

Menurutnya, PHRI menargetkan tahun depan dapat menjual sekitar 35.000 paket tiket penerbangan dan penginapan, meningkat dua kali lipat dari capaian pada Ramadan tahun ini.

“Kami akan coba pada Maret karena menyesuaikan dengan ketersediaan kapasitas baik dari maskapai maupun dari kami. Kami akan pertimbangkan untuk kembali mengadakannya pada Ramadan, tetapi akan kami lihat dulu karena bisa jadi program pada Maret sudah bisa menutupi sampai Ramadan pada Juni,” katanya.

PHRI cukup optimistis target tersebut dapat tercapai. Untuk merealisasikan hal itu, PHRI juga bermitra dengan seluruh pemangku kepentingan di bidang pariwisata untuk memperbaiki kualitas pariwisata dalam negeri.

Menurut Hariyadi, tantangan utama pariwisata domestik saat ini adalah kurangnya perencanaan dan pengintegrasian acara-acara atau atraksi wisata berbagai daerah Indonesia untuk menarik wisatawan mancanegara.

Selain itu, banyak destinasi wisata Indonesia yang tidak dikelola dengan baik sehingga terkesan kumuh dan tidak indah, padahal sangat potensial. Banyak juga destinasi wisata yang belum memiliki akses infrastruktur yang baik.

Sementara itu, tutur Hariyadi yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia, industri perhotelan masih dibayang-bayangi masalah kelebihan pasokan.

Hanya saja, saat ini rata-rata investor hotel sudah mulai sadar terhadap hal tersebut dan lebih menahan diri untuk menggelontorkan investasi untuk pembangunan hotel baru.

Hal itu menyebabkan pertumbuhan pasokan hotel baru tahun depan relatif akan lebih terkendali. Momentum tersebut dimanfaatkan PHRI untuk menggenjot permintaan melalui kegiatan promosi dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.

“Kita harus bantu pemerintah untuk merealisasikan target 20 juta wisatawan pada 2020. Kalau kita tidak bantu untuk inisiatif menggerakan stakeholders lainnya, akan sulit untuk bisa mencapai target tersebut,” katanya.

Sebelumnya, perusahaan konsultan BCI Asia memproyeksikan nilai konstruksi properti sektor perhotelan mencapai Rp10,70 triliun pada 2017. Angka tersebut menurun 10% jika dibandingkan dengan perolehan konstruksi pada periode 2016 sebesar Rp11,80 triliun.

Senior Research Analyst Indonesia BCI Asia Gusti Rahayu Anwar mengatakan, meski menurun, secara periode tahunan tahun depan akan lebih bertumbuh melambat dibandingkan dengan penurunan yang terjadi pada 2015 menuju 2016 lalu yang mencapai 20%.

BCI pun memprediksi ada tiga daerah yang akan menerima pasokan konstruksi tertinggi yakni Bali 29%, Jawa Barat 24%, dan Jawa Tengah 18%.

Hariyadi mengatakan, PHRI sudah mempersiapkan program khusus dan besar untuk mempromosikan pariwisata Indonesia ke mancanegara. Namun, penyelenggaraan program tersebut baru akan dilaksanakan pada 2018.

PHRI bersama pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya di bidang pariwisata akan menyelenggarakan program tersebut sepanjang 2018 dan menyasar para wisatawan baru yang belum pernah mengunjungi Indonesia.

Program dilaksanakan dengan mengintegrasikan berbagai atraksi budaya dan wisata dari berbagai daerah dalam kalender kegiatan sepanjang tahun serta program promosi dari PHRI dan maskapai penerbangan dari dan ke luar negeri.

Sejumlah kegiatan wisata dan promosi besar akan dilakukan sepanjang Januari hingga Maret yang biasanya merupakan momen sepi wisatawan. Hasil dari promosi tersebut akan menjadi tolok ukur untuk melanjutkan program tersebut sepanjang 2018. kbc10

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: