Badan Karantina Pertanian antisipasi wabah flu burung di China

Rabu, 04 Januari 2017 | 20:32 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Karantina Kementerian Pertanian (Barantan) mengantisipasi dengan memperketat pengawasan sehubungan kemungkinan masuknya produk unggas dari Republik Rakyat China (RRC) yang saat ini terkena wabah flu burung.

Berdasarkan informasi resmi dari Otoritas Kesehatan Pemerintah RRC, wabah flu burung yang tengah melanda negara tersebut. Merebaknya flu burung di China berimbas tujuh orang terjangkit, dua orang meninggal dunia dan puluhan ribu unggas dimusnahkan hingga 8 Desember 2016 lalu.

Kepala Badan Karantina Kementan Banun Harpini disela Rakernas Pembangunan Pertanian 2017 Jakarta, Rabu (4/1/2016) mengatakan virus flu burung yang menyerang unggas di Negeri Tirai Bambu nampaknya telah bermutasi dari H5N1 menjadi H7N9. "Itu sudah terdeteksi dan menginfeksi manusia," katanya.

Namun ia meminta masyarakat tidak risau karena sejak 2013, Indonesia sudah melakukan penghentian  masuknya DOC juga produk segar terkait unggas seperti daging segar untuk ayam maupun itik. Barantan juga melakukan pengetatan terhadap pengawasan di pintu-pintu pemasukan dan pengeluaran di seluruh wilayah Indonesia.

Hal tersebut untuk mewaspadai virus flu burung menyebar ke Indonesia.Menurutnya pengetatan tersebut dilandaskan pada peraturan Menteri Pertanian.

Banun mengatakan pihaknya terus meningkatkan pengawasan perkarantinaan terhadap kemungkinan masuknya unggas ilegal. Banun juga pernah melakukan pemusnahan pemasukan unggas ilegal asal Cina. Unggas tersebut masuk ke Indonesia melalui  jalur Malaysia. "Antara lain bebek dan itu kita musnahkan kemarin akhir-akhir 2016," ujarnya

Yakni, Peraturan Menteri Pertanian Nomor 44 Tahun 2013 tentang Penghentian Pemasukan Unggas dan atau produk segar unggas dari Negara Republik Rakyat China ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Banun menjelaskan berkaitan dengan upaya pencegahan terjangkitnya kembali flu burung di Indonesia, pada tanggal 28 Desember 2016 juga telah dilakukan pelarangan pemasukan anak ayam (DOC, Day Old Chick) dan produk unggas ke Indonesia.

Adapun pelarangan tersebut dari tujuh negara antara lain Belanda, Jepang, India, Perancis, Finlandia, Rumania dan Swedia."Pelarangan ini dilakukan berdasarkan informasi dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) terkait wabah flu burung yang terjadi di tujuh negara tersebut," ujar Banun.

Sekadar informasi, kasus flu burung di Indonesia, dalam periode 10 tahun lalu (2005 - 2014) mengalami penurunan baik kasus pada hewan maupun manusia.

Hal ini sejalan dengan penanggulangan penyakit flu burung oleh antar instansi yang berjalan dengan baik, terbukti dengan mulai meningkatnya kepercayaan negara mitra dagang terhadap produk peternakan dan terus berdampak positif terhadap peningkatan neraca perdagangan komoditas peternakan.

Kasus flu burung saat ini yang terjadi di Indonesia mengalami tren penurunan dan hanya pada fokus kecil peternakan rakyat, sedangkan perusahaan besar yang telah menerapkan sistem kompartemen tidak ditemukan kasus baru.

"Kasus flu burung banyak menyerang ke peternak unggas rakyat. Upaya terus menerus pentingnya usaha peternakan memenuhi prinsip-prinsip biosecurity dan surveillance," terangnya. kbc11

Bagikan artikel ini: