Kewirausahaan Indonesia duduki rangking 90 dunia

Jum'at, 06 Januari 2017 | 11:17 WIB ET

MALANG, kabarbisnis.com: Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, tingkat kewirausahaan Indonesia di dunia masih menempati urutan yang rendah meskipun terjadi perningkatan di tahun ini dibanding tahun sebelumnya.

Berdasarkan hasil rilis Global Entrepreneurship Index 2017 yang dilakukan The Global Entrepreneurship and Development Institute, Amerika Serikat disebutkan secara global, Indonesia menempati peringkat ke-90 dari 137 negara. Posisi ini meningkat dibanding dengan 2016 yang berada di posisi ke-103 dari 132 negara.

"Rendahnya peringkat ini menunjukkan bahwa kita masih belum mampu megolah keuanggulan kita yaitu jumlah pasar yang sangat besar," kata Darmin, dalam perayaan Dies Natalis ke-54 Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Kamis (5/1/2017).

Salah satu peningkatan Indonesia dinilai unggul dalam index ini, kata Darmin ialah upaya untuk memanfaatkan jaringan. Di sisi lain Indonesia dinilai masih harus meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi dan inovasi dalam mengembangkan bisnis, kemampuan ekspor, dan meningkatkan visi serta kapasitas untuk scale-up (tumbuh). Salah satu permasalahan yang umum ialah pendanaan dan kapasitas SDM.

Terkait pendanaan, Darmin menjelaskan, tech start-up atau bisnis baru berbasis teknologi, karena di awal, tech start-up masih dalam tahap idea dan seed, sehingga belum mempunyai keuntungan, dan memiliki tingkat risiko yang tinggi. Pada tahap ini banyak tech start up yang akhirnya gagal, sehingga tahap ini dikenal juga dengan istilah valley of death.

Tentunya, ungkapan layu sebelum berkembang ini menjadikan para tech start-up pemula masih sulit memperoleh pendanaan karena lembaga pendanaan seperti modal ventura, bank atau lembaga keuangan nonbank lainnya belum mau melakukan penyertaan modal atau memberikan pinjaman.

Maka, dibutuhkan skema pendanaan dari Pemerintah pada siklus ini yang sifatnya sebagai jembatan untuk memfasilitasi dan membawa pelaku bisnis tech start-up kepada siklus hidup berikutnya. Pada saat itulah pendanaan dari sektor swasta sudah mau terlibat.

Pemerintah, kata Darmin, sedang berupaya menyusun skema pendanaan bisnis tech start-up, khususnya untuk tahap seed. Sedangkan untuk UMKM go digital, salah satu skema pendanaan yang sedang dirumuskan ialah melalui skema KUR digital yang mekanismenya saat ini sedang disusun oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

"Kami sedang berupaya untuk mencari formulasi yang paling sesuai dan tepat sasaran, baik dengan memanfaatkan mekanisme hibah, penyertaan modal negara, maupun skema pendanaan alternatif lainnya seperti angel capital atau seed capital," ujar dia.

Selain sektor pendanaan, lanjut Darmin, faktor terpenting dalam mendorong tech start-up dan UMKM go digital ialah peningkatan kapasitas SDM. Peran serta institusi pendidikan dan bisnis untuk bergerak bersama memberikan pendampingan baik dalam bentuk inkubator, akselerator, maupun bentuk fasilitasi lainnya menjadi kunci utama. Inkubator wirausaha yang ada di Indonesia, sebagian besar terdapat di perguruan tinggi.

"Pengembangan sektor usaha digital tidak hanya berada pada pendanaan dan kapasitas SDM, tapi juga ekosistem yang menyeluruh seperti pasar yang mudah diakses, infrastruktur TIK, kerangka regulasi, perizinan, dan sistem pendukung lainnya," jelas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: