Komoditas kelapa di ambang senjakala?

Senin, 09 Januari 2017 | 15:51 WIB ET
(istimewa)
(istimewa)

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia merupakan produsen kelapa utama di dunia yang kemudian disusul Filipina, India dan Brazil.Namun, saat ini produksi dan luas areal penanaman komoditas penghasil minyak nabati primadona yang perannya tergantikan kelapa sawit ini kian tergerus.

Data Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) memprediksi tahun 2017 ini , produksi kelapa diperkirakan  2.871.80 ton atau turun 19.466‎ ton dibandingkan tahun 2016  sebesar 2.890.735 ton (angka sementara).Padahal produk kelapa tahun 2015 tercatat sebesar 2.920.665 ton.

Setali tiga uang, luas areal ‎penanaman juga terus merosot dalam kurun waktu yang sama. Pada tahun 2015,luas areal tanaman kelapa sebesar 3.585.599 hektare (ha). Kemudian, di tahun berikutnya menjadi 3.566.103‎ ha dan tahun 2017 ini diprediksi mengalami pengurangan menjadi 3.544.393 ha.

Dari luas lahan areal perkebunan kelapa tersebut, perkebunan besar swasta seluas 32.824 ha. Sementara, perkebunan negara seluas ‎3.874 ha. ( 201‎5).

Adapun produktivitas tidak mengalami perbaikan, kurang 1,2 ton /ha atau 50% dari produksinya sekitar 98% merupakan perkebunan rakyat tergolong tanaman tua yang diwarisi secara turun menurun.Dirjen Perkebunan mengatakan kepemelikan lahan terbilang terbatas dan pemanfaatan belum optimal karena keterbatasan penerapan teknologi.

"Produktivitas tanaman kelapa yang dihasilkan petani masih sangat rendah yakni 4.2 00 butir per hektare atau setara 0,83 ton kopra per hektare. Mayoritas petani hanya mengolah maksimal menjadi  kopra," ujar Bambang.

Padahal peluang nilai tambah petani semakin besar apabila kelapa mampu diolah menjadi Crude Coconut Oil (CCO) yang selama ini diekspor ke sejumlah negara. Untuk ke dalam negeri, produk kelapa dapat dijadikan sebagai penyedia bahan baku industri dalam terutama industri minyak goreng,nata de coco, margarine dan lainnya.

Bambang melihat adanya kecenderungan petani melakukan penebangan kelapa tua/muda untuk menggantikan kayu bahan bangunan yang harganya semakin tinggi dan terbatas menjadi penyebab penurunan luas area tanaman kelapa ‎selama beberapa tahun terakhir."Bahkan pucuk kelapa ‎digunakan secara berlebihan untuk upacara keagamaan khususnya di Pantai Timur, Jawa Timur," terangnya.

‎Bambang mengatakan sejumlah upaya terus dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman kelapa melalui peremajaan kelapa tua atau tidak produktif dengan pemanfaatan benih unggul bermutu.Upaya ini dibarengi dengan diversifikasi tanaman palawija."Intesifikasi dan ekstensifikasi tanaman kelapa," paparnya.

Kementan, kata Bambang, juga memfasilitasi pem‎bangunan unit pengolahan kelapa terpadu untuk mengolah produk kelapa menjadi minyak kelapa, sari kelapa, VCO dan tempurung kelapa. ‎"Kita juga mendorong petani menjalankan pemberdayaan pekebun tanaman kelapa melalui sistem kebersamaan ekonomoi berdasarkan kemitraan," terangnya.

Tahun 2017, sambung Bambang, Ditjen Perkebunan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 28,1 miliar untuk peremajaan tanaman kelapa yang tersebar di 20 provinsi sentra produksi. Ke-20 provinsi tersebut diantaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur,Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kalteng, Sulut, Sulteng,Bali, NTB, Maluku,dan Papua Barat. "Kita berkeinginan industri pengolahan tidak hanya terpusat di Sumatera dan Jawa," kata dia.

Direktur Pemasaran Ditjen Perkebunan Dedi Mulyadi mengatakan ‎upaya peningkatan produksi guna permintaan  industri domestik yang semakin meningkat. Bahkan sejumlah pemangku kepentingan mengusulkan kepada Kemendag agar menutup ekspor produk kelapa. Hal ini justru membuat sentimen positif terhadap harga kelapa di tingkat petani. Misalnya di Kabupaten Sambas,harga di tingkat petani berkisar Rp 3.500- Rp 4.500 per butir. Padahal, sebelumnya harganya hanya berkisar R‎p 1.500-Rp 2.000 per butir. 

Sentimen kenaikan harga kelapa ini, sambung Dedi, membuat para petani kembali bergairah membudidayakan komoditas tanaman ini. kbc11

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: