Tiga kementrian siapkan aturan harga untuk susu sapi segar dalam negeri

Senin, 09 Januari 2017 | 17:20 WIB ET

MALANG, kabarbisnis.com: Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito mengatakan pemerintah akan berkoordinasi untuk menentukan floor price untuk susu sapi segar di Indonesia. Hal tersebut diungkapkan dalam kunjungannya ke peternakan PT Greenfields Indonesia bersama dengan empat mentri Kabinet Kerja lainnya. Pernyataan tersebut muncul dari Mendag setelah sebelumnya kelima menteri tersebut mengunjungi peternak sapi perah di Pujon,  Malang, Jawa Timur.

“Pemerintah (dalam hal ini) menteri perdagangan, menteri perindustrian, dan menteri pertanian harus bersama-sama menentukan floor price untuk harga susu sapi segar dari peternak,” ungkap Enggartiasto kepada Menko Darmin Nasution, dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam kesempatan tersebut.

Ketiga menteri tesebut bersama dengan Menteri PUPR, Basuki Hadimoeljono dan Menteri Kominfo, Rudiantara mengunjungi Peternakan Sapi Perah PT Greenfields Indonesia yang berlokasi di Desa Ngajum, Kec.  Wagir, Kab. Malang, Jawa Timur.

Beroperasi sejak tahun 1997, Peternakan Greenfields saat ini memiliki populasi sapi sebanyak 8.000 ekor sapi ini merupakan peternakan sapi perah terbesar di Indonesia. Mengambil bibit sapi Holstein dari Australia dan dikembangkan secara lokal, Greenfields mampu meproduksi susu sebesar 42 juta ton susu setiap tahunnya.

Selain mengunjungi peternakan sapi, para menteri bidang ekonomi tersebut sedang mengkaji kebijakan wajib serap SSDN oleh Industri pengolahan susu (IPS). Saat ini kebutuhan susu nasional masih tergantung oleh impor susu bubuk sebesar 82%.

“Rendahnya harga SSDN ditingkat peternak menjadi penyebab utama keengganan peternak untuk memelihara sapi perah,”ujar Heru S. Prabowo, Wakil Ketua APSPI (Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia).  ”Harga saat ini berkisar antara 5.000 – 5.500 rupiah per liter,”lanjutnya.

Menurut Heru harga tersebut tidak mampu menutupi biaya operasional untuk pemeliharaan sapi terutama pakan sapi perah. Lebih lanjut harga dasar yang setidaknya dibutuhkan oleh peternak sapi perah adalah Rp. 6.000,- dengan harga tersebut petani diperkirakan bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 1,9 juta per bulan.

“kalau harga 6.000 rupiah peternak senang, industri senang,” ujar Menteri Airlangga Hartarto dalam kesempatan yang sama. “Kalau harga tinggi paling margin dari IPS (industri pengolah susu) berkurang sedikit karena hanya (wajib) menyerap 20% saja,”lanjutnya.

Pendampingan Peternak

Isu lainnya yang juga diangkat dalam kunjungan tersebut mengenai pendampingan kapasitas peternak untuk memelihara dan memproduksi SSDN.

“Satu ekor sapi di greenfields saat ini bisa memproduksi sekitar 31 liter susu per hari,” ujar Irwansah. SE, Operation Manager Milk Sourcing Unit. “jumlah produksi tersebut bisa dicapai karena sapi di Peternakan Greenfields dibuat senyaman mungkin mulai dari kebersihan kandang, supply pakan yang terus menerus, serta batas maksimal satu jam per hari interaksi antara sapi dengan manusia hanya selama memerah,” lanjutnya.

Jumlah produksi tersebut terhitung cukup tinggi dibandingkan produksi susu sapi oleh peternak yang hanya di kisaran 15-20 liter per hari per sapi. Angka produksi tersebut merupakan rerata jumlah produksi peternak sapi binaan Greenfields.  Dengan jumlah total binaan  sebanyak 165 peternak dengan populasi 1.100 ekor yang terdiri 700 sapi produksi dan sisanya pedet serta sapi yang tidak berproduksi mampu menghasilkan 7.000 liter susu per hari. 

“kalau melihat peternakan Greenfields pola peternakan sapinya sudah sangat ideal, masih butuh banyak waktu untuk bisa mengejar mengembangkan peternakan seperti ini di tingkat peternak,” Ujar Menko Perekonomian Darmin Nasution.

Menyikapi kondisi tersebut, menteri perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan faktor terpenting adalah edukasi dan pendampingan untuk peternak dan calon peternak. Saat ini pemerintah juga sedang menggalakkan pelatihan terutama untuk sekolah kejuruan.

“Sejalan dengan concern pemerintah Greenfields dengan program kemitraan kepada petani juga mendampingi petani selama masa pemeliharaan, bantuan pembuntingan  sapi, hingga proses penjualan susu sapi,” ujar Irwansah. “Kami membantu menjualkan susu sapi mereka dengan langsung membeli dari petani tanpa melalui koperasi sehingga memotong rantai pembelian,” lanjutnya.

Tak hanya kemitraan peternak sapi, kehadiran Greenfields juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dengan menjalankan kemitraan pengadaan pakan sapi dengan rumput odot dan tebon jagung untuk petani di sekitar lokasi usaha. Setiap bulannya petani rumput odot dapat memperoleh penghasilan sekitar 8 juta per bulan dengan produksi sekitar 40 ton rumput di lahan 1 hektar. kbc9

Bagikan artikel ini: