Pasar semen 2016 lesu, Semen Indonesia tetap pertahankan market share

Senin, 09 Januari 2017 | 17:22 WIB ET

GRESIK, kabarbisnis.com: Produsen semen pelat merah, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk masih mampu mempertahankan penguasaan pasar ditengah melemahnya pasar semen di tanah air tahun lalu.

Direktur Utama Semen Indonesia, Rizkan Chandra, mengatakan ketatnya persaingan industri semen dan kondisi perekonomian nasional yang menurun, memberikan imbas yang cukup signifikan pada kinerja emiten berkode SMIG ini.

“Pertumbuhan semen nasional tahun ini minus 3% setelah normalisasi hadirnya pemain-pemain baru di industri semen. Diperkirakan pertumbuhan nasional semen sampai dengan Desember minus 1,1% dan SMIG di posisi minus 1,2%. Namun demikian, market share SMIG masih dapat bertahan di 41,6%,” katanya di sela tasyakuran perayaan HUT ke-4 Holding Semen Indonesia di kantor Pusat Semen Indonesia di Gresik, Senin (9/1/2017). Semen Indonesia sendiri merupakan holding company dari Semen Padang, Semen Gresik, Semen Tonasa serta Thang Long Cement Vietnam. Holding ini dibentuk pada 7 Januari 2014.

Rizkan menambahkan, meski secara bisnis cukup tertekan, perseroan tetap akan memacu produksi. Beberapa pabrik bahkan mencatatkan rekor jumlah produksi seperti Pabrik Tuban yang mampu mencetak produksi sebesar 1.381.907 ton atau 5% di atas RKAP sebesar 1.304.400 ton. Angka ini melampaui rekor produksi tahun 2015, yakni 1.355.795 ton atau meningkat 2%.

“Kita berharap di tahun-tahun mendatang, pabrik-pabrik semen SMIG dapat ikut menorehkan prestasi produksinya,” ujar Rizkan.

Untuk menghadapi persaingan industri kedepan yang kian ketat perusahaan akan menerapkan strategi transformasi dari sekadar produsen semen menjadi bisnis semen, hilirisasi produk (adjacent portofolio), pasar regional, dan cost transformation.

Keempatnya akan didukung oleh sistem dan struktur, serta people dan culture. Semen Indonesia memiliki bebrapa keunggulan dibanding kompetitio diantaranya lokasi produksi berupa 4 buah pabrik yang terintegrasi dan mampu menciptakan peluang biaya distribusi yang lebih terjangkau dan jaminan ketersediaan produk di pasar. Didukung distribusi terintegrasi yang luas dengan 11 pelabuhan, 25 packing plant, dan ratusan distributor se-Asia Tenggara.

Sementara itu, Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartarto dalam kesempatan yang sama, mengatakan Industri semen masih mempunyai prospek cerah mengingat iklim investasi sampai saat ini cukup menarik minat para investor serta peluang pasar yang cukup besar. Hal ini dikarenakan konsumsi semen perkapita nasional yang masih kecil yaitu sebesar 243 kg/kapita dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia sebesar 751 kg/kapita, Thailand sebesar 443 kg/kapita dan Vietnam sebesar 661 kg/kapita. Nilai investasi industri semen pada tahun 2016 yang mencapai Rp. 15 triliun menunjukkan masih menariknya industri semen bagi investor dari dalam maupun luar negeri.

“Kami akan terus mendorong penggunaan semen dalam negeri pada program pembangunan infrastruktur pemerintah yang berkoordinasi dengan Kementerian lain seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta instansi terkait lainnya, sehingga diharapkan utilisasi industri semen nasional dapat ditingkatkan. Upaya lain yang dilakukan untuk menjaga iklim usaha industri semen tetap kondusif dan industri semen nasional dapat berkembang antara lain dengan mengendalikan impor semen maupun klinker, mendorong diversifikasi produk barang-barang dari semen, penerapan, dan penegakan hukum Standar Nasional Indonesia semen secara wajib maupun pengembangannya,” tuturnya. kbc8

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: