Aprindo optimistis bisnis ritel tahun ini bakal tumbuh 13,5%

Senin, 09 Januari 2017 | 18:16 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2016 menjadi angin segar bagi para pebisnis di tanahair, termasuk pebisnis ritel di wilayah Jatim. Mereka optimistis penjualan di sektor ritel pada tahun 2017 bakal mencapai 13,5%.

Koordinator Wilayah Timur Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Abraham Ibnu mengatakan, dengan pencapaian pertumbuhan ekonomi Jatim 2016 yang mencapai diatas rerata nasional sebesar 5,3% membawa angin segar bagi para pebisnis ritel. Apalagi selama ini perkembangan nilai penjualan ritel di Jatim tiap tahun selalu meningkat. Pada 2015 lalu, kontribusi Jatim sebesar 11,3 %, di tahun 2016 meningkat menjadi 12,7 % dan tahun ini diproyeksikan 13,5 %.

"Dari total proyeksi nilai penjualan ritel secara nasional pada tahun ini, khususnya di wilayah Indonesia Timur masih didominasi Jawa Timur. TetPi kembaki lagi, optimisme itu tentunya, diharapkan pada tahun ini perekonomian Jatim mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi daripada 2016," ujar Abraham Ibnu ketika dihubungi, Surabaya, Senin (9/1/2017)

Aprindo Wilayah Timur sendiri membawahi Jatim, Bali dan Sulawesi yang mencakup Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. Pada 2016, Jatom berkontribusi sebesar 12,7% , di urutan berikutnya Sulawesi dengan kontribusi 5,3% kemudian Bali dengan persentase 2,6%. Sales ritel di Sulawesi pada 2016 sebesar Rp 10,6 triliun, sedangkan Bali sebesar Rp 5,2 triliun.

Perkembangan ritel di Indonesia Timur terus meningkat sejalan dengan meningkatnya kemampuan belanja masyarakat. Kebijakan harga yan g diterapkan pemerintah untuk beberapa komoditas bisa menekan disparitas harga antara di Jawa dengan daerah lain di luar Jawa. "Jadi, kemampuan belanja di Indonesia Timur ikut terkerek," jelasnya.

Menurut penjelasannya, perkembangan ritel modern di wilayah Indonesia Timur bakal terkonsentrasi pada kategori supermarket dan hipermarket. Karena khususnya di Jatim, banyak moratorium untuk pengembangan minimarket. Dengan demikian, perluasan jaringan minimarket tidak seagresif sebelumnya.

Sudah ada peritel hipermarket dan supermarket berjaringan nasional maupun lokal yang siap masuk. Di antaranya ke Bali, Kendari (Sulawesi Tenggara), Manado (Sulawesi Utara) dan Gorontalo. Serta di Tual dan Ambon yang berada di Provinsi Maluku. "Kalau di luar Jawa, kebanyakan pengembangan ritel menggunakan konsep stand alone (mandiri),'; ungkapnya.

Selain stand alone, gerai ritel biasanya di dalam mal. Dipilihnya konsep stand alone di luar Jawa karena sulit kalau hanya mengandalkan pembangunan pusat belanja. Makanya alternatif yang memungkinkan untuk mendukung rencana ekspansi perseroan dengan menerapkan konsep gerai mandiri. "Sebenarnya, ekspansi minimarket di luar Jawa masih jalan. Karena pasar di sana masih terbuka seperti di Sulawesi dan Kalimantan," tutur Abraham.

Sementara untuk ekspansi department store juga masih berlanjut. Agresifnya penjualan produk fashion melalui perdagangan online dinilai tidak mempengaruhi rencana ekspansi gerai department store. "Karena segmen market yang dibidik berbeda. Jadi tetap sama-sama tumbuh," tambahnya.

Kemudian, ritel modern format lain seperti perkulakan dan specialty store juga akan terus tumbuh. Yang termasuk specialty store ialah ritel yang khusus menjual satu macam produk, seperti perhiasan, gadget dan produk mesin.kbc6

Bagikan artikel ini: