Batas atas ganti rugi pemodal naik jadi Rp 150 juta

Senin, 09 Januari 2017 | 19:00 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Penyelenggara Program Perlindungan Investor Efek Indonesia (P3IEI) atau dikenal dengan Indonesia Securities Investor Protection Fund (Indonesia SIPF) akan menaikkan batas maksimal ganti rugi per pemodal menjadi Rp 150 juta.

Direktur Utama Indonesia SIPF, Ignatius Girendroheru, mengatakan pada 2017 Indonesia SIPF menargetkan untuk menaikkan batas maksimal ganti rugi per pemodal sebesar 50 persen dari saat ini Rp 100 juta menjadi Rp 150 juta.

“Hal ini seiring dengan peningkatan nilai dana perlindungan pemodal (DPP) mencapai Rp 120,5 miliar sampai akhir 2016,” katanya di Jakarta, baru-baru ini

Dengan naiknya batas maksimal ganti rugi pemodal tersebut diharapkan akan semakin meningkatkan kepercayaan investor dan menciptakan rasa aman bagi investor dari risiko hilangnya efek dan/atau dana milik investor yang dititipkan pada kustodian yang menjadi anggota DPP. Perubahan batas ganti rugi juga akan meningkatkan aktifitas berinvestasi di Bursa Efek Indonesia.

Indonesia SIPF selama 2016 telah berhasil menghimpun DPP mencapai Rp 120,5 miliar atau tumbuh 21,97 persen. DPP adalah kumpulan dana yang dibentuk berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melindungi pemodal dari hilangnya aset pemodal. “Perumbuhan DPP selama 2016 berasal dari iuran tahunan anggota DPP dan hasil investasi DPP,” kata Ignatius.

Kontribusi anggota DPP dalam bentuk iuran tahunan pada tahun 2016 mencapai 15,04 miliar rupiah. Selebihnya peningkatan nilai DPP berasal dari hasil investasi DPP pada deposito bank milik pemerintah dan Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 6,67 miliar. Hingga akhir 2016, Anggota DPP terdiri dari 109 perantara pedagang efek dan 19 bank kustodian.

Sementara Direktur Indonesia SIPF, Widodo menyampaikan jumlah nilai aset investor (efek dan dana) di pasar modal yang dilindungi oleh Indonesia SIPF sampai akhir 2016 telah mencapai Rp 3.558,57 triliun. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp 592,55 miliar atau tumbuh 19,98 persen sepanjang 2016.

Peningkatan nilai aset tersebut disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena bullish-nya pasar saham dan pasar obligasi Indonesia selama tahun 2016 yang tercermin dari pertumbuhan IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar 15,32 persen ytd (year to date) dan Indonesia Composite Bond Index (ICBI) IBPA sebesar 13,74 persen ytd.

Kedua, meningkatnya kegiatan aksi korporasi dari emiten yang berasal dari IPO saham dan obligasi serta penerbitan right issue selama tahun 2016. Tercatat selama tahun 2016 terdapat 16 emiten melakukan Initial Public Offering (IPO) saham dengan total nilai IPO Rp 12,11 triliun dan sebanyak 56 perusahaan melakukan penerbitan obligasi dengan total nilai emisi mencapai Rp 113,29 triliun dan US$47,50 juta.

Dari jumlah investor yang terlindungi asetnya oleh Indonesia SIPF, selama tahun 2016 terdapat 654.123 investor berdasarkan jumlah sub rekening efek (SRE) di PT KSEI.

Jumlah investor yang dilindungi oleh Indonesia SIPF ini meningkat sebanyak 114.331 SRE atau tumbuh sekitar 21,18 persen sepanjang tahun 2016.

Terkait dengan klaim, Widodo mengungkapkan selama 2016 Indonesia SIPF belum ada kasus penyelesaian klaim ganti rugi atas aset pemodal yang hilang. kbc10

Bagikan artikel ini: