‎Menkeu Sri Mulyani akui pertumbuhan ekononomi belum berkualitas

Selasa, 10 Januari 2017 | 17:03 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengingatkan Indonesia jangan sampai berpuas diri setelah mencapat pertumbuhan ekonomi terbaik di tengah tren pelemahan ekonomi dunia. Pasalnya secara kualitas pertumbuhan masih lebih dinikmati sekelompok masyarakat.

Sri Mulyani dalam Rapat Kerja Nasional Kementerian Keuangan bertajuk Sinergi Untuk Negeri di Jakarta, Selasa (10/1/2016), mengatakan kendati pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan paling baik di antara negara-negara di dunia, dengan mencatatkan pertumbuhan rata-rata di atas 5% sejak 10 tahun terakhir. Namun yang terpenting adalah bagaimana pertumbuhan itu benar-benar berkualitas.

Sri Mulyani menjelaskan Indonesia masih dihadapkan pada tiga isu utama yang menjadi penghalang dan masalah yang harus mampu segera diselesaikan, seperti kemiskinan, ketimpangan, dan pengangguran. Gini rasio Indonesia masih di angka 0,40, yang menunjukkan kue ekonomi hanya dinikmati oleh sekelompok masyarakat.

Sri Mulyani menyatakan akselerasi penurunan kemiskinan makin lama semakin landai, dan itu menggambarkan kemampuan Indonesia dalam mendesain ekonomi untuk menurunkan kemiskinan. Padahal setiap 1% pertumbuhan ekonomi , seharusnya dapat menurunkan pengangguran atau kemiskinan dengan cepat.

"Tapi (pertumbuhan ekonomi 5 persen) ini tidak otomatis mengurangi kemiskinan, kesenjangan, dan pengangguran. Kita tidak boleh hanya berpuas diri dengan hanya pertumbuhan ekonomi yang baik. Kita harus terus bertanya apa kualitas pertumbuhan ekonomi itu mampu membenahi struktural kita," kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengakui ekonomi Indonesia relatif sangat terbuka, namun hal itu tak dapat dihindari mengingat negara-negara yang mengaku tertutup sekalipun pun seperti Korea Utara dan Venezuela kenyataannya tetap terpengaruh dengan kondisi luar. "Artinya seluruh negara itu sebenarnya saling terhubung sebenarnya. Maka ekonomi makro sangat berpengaruh pada Indonesia. Apa kita terpengaruh pertumbuhan ekonomi dunia? Yang terjadi di AS menular ke Eropa, ke sektor keuangan dan merembet ke sektor riil," ujar dia.

Akibatnya,menurut Sri Mulyani krisis keuangan yang merembet ke sektor itu merembet ke seluruh negara berkembang di dunia ini sehingga pertumbuhan ekonomi dunia harus diirevisi ke bawah. Sebab perlambatan ekonomi dunia itu telah melemahkan permintaan dan berdampak pada turunnya harga komoditas internasional.

"Kita penghasil komoditas, sangat terpengaruh dengan kondisi tersebut. Tapi di dalam negeri, kita bagaimana menciptakan kondisi fiskal yang lebih kredibel untuk menjaga perekonomian dalam negeri. Kita juga harus mampu investasi di sumber daya manusia. Karena manusia adalah the most important assets," jelas Sri Mulyani.

Sri Mulyani menambahkan di negara manapun yang memiliki kemakmuran adalah bercirikan manusianya yang berkualitas. "Maka investasi di SDM sangat penting. Wujudnya SDM yang berkualittas dan berdaya saing serta produktif dan inovatif," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: