Ketidakpastian global sudah dipertimbangkan dalam asumsi makro ekonomi 2017

Selasa, 10 Januari 2017 | 21:35 WIB ET

JAKARTA, kabarisnis.com: Faktor kondisi global yang masih penuh dengan ketidakpastian sudah menjadi pertimbangan bagi pemerintah dalam menentukan asumsi makro ekonomi tahun 2017 ini.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dalam Rapat Kerja Nasional Kementerian Keuangan bertajuk Sinergi Untuk Negeri  Jakarta, Selasa (10/1/2016), mengatakan upaya menyeimbangkan dan melakukan model baru perekonomian China telah mempengaruhi perekonomian dunia beberapa tahun terakhir, juga Indonesia.Selama ini, sambung Sri Mulyani China merupakan negara penyumbang utama pertumbuhan ekonomi global.

Ketika negara ini mengubah tumpuan perekonomiannya dari industri ke konsumsi, maka negara-negara penghasil komoditas yang selama ini dibutuhkan China mengalami dampak paling besar, salah satunya adalah Indonesia."Di RRT (China), perekonomian terbesar di dunia, kita harus perhatikan. Karena setiap 1 persen growth-nya itu berarti meningkatkan permintaan barang dan jasa dunia. Suka tidak suka tiga dekade ini pertumbuhan ekonomi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) merupakan mesin pertumbuhan ekonomi dunia, dan sekarang RRT harus me-rebalance pertumbuhan ekonominya dari industri menjadi konsumsi," kata Sri Mulyani.

Lebih lanjut Menkeu menyatakan seluruh wilayah di Indonesia yang mengandalkan komoditas, harus menerima kondisi eksternal tersebut karena harga komoditas mengalami penurunan secara signifikan. Hal itu menjadi pelajaran yang sangat penting bahwa setiap wilayah di seluruh Indonesia ini harus punya diversifikasi produk agar bisa bertahan dari pengaruh global.

Dia menuturkan kondisi tersebut mau tidak mau telah mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara nasional. Berbagai proyeksi pertumbuhan ekonomi telah disebutkan oleh lembaga-lembaga yang ada dengan perkiraan relatif masih cukup baik di atas lima persen.

"Kalau BI mengatakan range-nya dari 4,0-5,4 persen, beberapa institusi internasional seperti IMF dan World Bank di 5,3 persen. Kita dan DPR sepakat pertumbuhan ekonomi 5,1 persen di 2017. Ini cukup hati-hati. Kenapa memilih cukup hati-hati? Waktu membahas dengan dewan, bahwa global masih sangat tidak pasti," ujarnya.

Sri Mulyani menuturkan perekonomian Indonesia dampai tiga tahun terakhir masih merupakan dalam posisi pemulihan tahap awal. Sehingga pemerintah perlu berhati-hati dalam mendesain APBN.

Belum lagi, tambah Sri Mulyani kondisi yang ada di Amerika Serikat terkait dengan kebijakan bank sentralnya, The Federal Reserve, terkait dengan tingkat suku bunganya. Amerika sudah mulai menunjukkan pemulihan ekonomi, sehingga berangsur-angsur mengurangi penggelontoran stimulus moneter.

"Waktu boom commodity, itu sektor konstruksi ikut boom. Begitu (komoditas) turun, maka sektor yang mengikutinya akan mengalami penurunan yang sama. Di sinilah kita tidak boleh lengah terhadap environtment yang terjadi," pungkasnya.kbc11

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: