Harga meroket, sebagian masyarakat beralih beli cabai busuk

Rabu, 11 Januari 2017 | 14:17 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Harga cabai rawit merah di sejumlah pasar tradisional hampir menyentuh Rp 150.000 per kilogram (kg). Mahalnya komoditas ini membuat sebagian masyarakat beralih membeli cabai busuk.

Suryati , pedagang cabai di Pasar Palmerah, Jakarta ,Rabu (11/1/2017) mengatakan, sudah lebih dari satu pekan di awal tahun 2017 ini harga cabai rawit merah meroket hingga Rp 145.000-Rp 147.000/kg. Padahal , jelang tutup tahun 2016,harga cabai rawit merah yang dibeli dari Pasar Induk Kramat Jati, ia bandrol diharga Rp 125.000/kg.

Suryati mengaku tidak mengetahui secara pasti atas melonjaknya harga komoditas hortikultura untuk kebutuhan bumbu dapur tersebut. Melonjaknya harga cabai ini membuat masyarakat membatasi pembelian.Ketika harganya masih bertengger di kisaran Rp 60.000-Rp 70.000/kg, Suryati masih mampu menjual 20 kg/hari.

“Tapi kalau sekarang sepi pak, perlu tiga-empat hari untuk menjualnya. Kalau buat masak sendiri,belinya kan gak banyak ,hanya satu ons. Kalau,pedagang sayur belinya lumayan ,bisa satu-dua kilogram”ujar perempuan paruh baya ini.

Suryati menambahkan mahalnya harga cabai membuat sebagian masyarakat beralih membeli cabai busuk. Harganya Rp 70.000/kg. Menurutnya ada sebagian masyarakat karena tidak mampu lantas mencampur cabai rawit merah busuk dengan cabai segar untuk dibuat sambel.”Tapi saya tidak menjualnya (cabai busuk red) pak,” bantah Suryati.

Sementara pedagang lainnya yang enggan namanya mengaku cabai busuk/sudah layu dibeli pedagang keliling atau kepada pengepul yang rutin mendatangi sejumlah pelapak. Kemudian ia jual kembali kepada warung makan atau pengusaha rumahan sebagai bahan campuran pembuatan sambal atau saos.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran menilai penjualan cabai busuk hanya dilakukan segelintir pedagang. Dia menghimbau masyarakat tidak membelinya karena berbahaya terhadap kesehatan seperti terserang diare. Namun, Ngadiran mengakui hal itu sulit dihindari mengingat segmen pasarnya apalagi ketika harga cabai rawit merah segar sudah menembus Rp 100.000/kg.

Ngadiran memampik para pedagang sengaja mempermainkan harga cabai.Pasalnya , pedagang ritel seperti Suryati jumlahnya di pasar terbilang banyak. Ngadiran menaksir mereka meraup untung berkisar Rp 7.000-Rp 10.000/kg. Keuntungan tersebut klaimnya tidaklah besar mengingat pedagang juga harus mengeluarkan sejumlah biaya seperti transportasi, ongkos angkut, retribusi dan lainnya.

Ngadiran melihat kenaikan harga cabai tidak lain karena biaya distribusi.Namun dia tidak sepakat faktor musim penghujan menjadi penyebab susut pasokan karena rusaknya tanaman cabai sehingga mengalami gagalan panen. Menurutnya petani sudah banyak mengenal teknologi dalam pembudidayaan cabai yang baik seperti penggunaan rumah plastik dan pemiihan benih cabai unggul yang tahan genangan dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Meski begitu, Ngadiran berharap pemerintah benar benar transparan memetakan provinsi/kabupaten menjadi sentra produksi cabai yang dapat menjual cabai seperti ketentuan yang ditetapkan pemerintah. “Jangan hanya terlihat surplus besar tetapi cuma diatas kertas,” pungkasnya.kbc11

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: