Kerja keras di destinasi wisata prioritas

Jum'at, 24 Februari 2017 | 13:21 WIB ET

PEMERINTAH punya mimpi sangat besar di bidang pariwisata: mendatangkan 20 juta turis asing pada 2019. Sejumlah destinasi wisata prioritas ditetapkan. Masalah utama ada pada soal infrastruktur.

Menteri Pariwisata Arief Yahya yakin betul target 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) bisa tergapai. Meski angka itu bisa dibilang rendah jika dibandingkan negara macam Malaysia atau Thailand yang jumlah wismannya bisa lipat dua dan tiga dari Indonesia, bagi Indonesia angka itu tetaplah super-jumbo. ”Pariwisata juga akan segera menjadi sektor penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia, mengalahkan migas, batubara, dan CPO,” kata mantan bos Telkom tersebut.

Untuk kepentingan membidik 20 juta turis itulah, pemerintah menetapkan 10 destinasi prioritas, yaitu Danau Toba, Mandalika, Kepulauan Seribu, Tanjung Kelayang, Wakatobi, Pulau Morotai, Tanjung Lesung, Bromo Tengger Semeru, Borobudur, dan Labuan Bajo. Itulah sepuluh ”Bali Baru” yang diharapkan bisa menggenjot kunjungan turis asing. Saat ini, Bali adalah penyumbang sekira 50 persen jumlah kunjungan wisman. Diharapkan dengan destinasi-destinasi prioritas itu, kunjungan wisman akan semakin tersebar dengan volume yang terus menanjak.

Masalahnya, tak mudah untuk segera menggeber destinasi-destinasi itu. Infrastruktur menjadi kendala utama. Kecuali Borobudur yang relatif lebih baik karena berada di lingkup sentra pariwisata yaitu Yogyakarta, destinasi prioritas lainnya relatif minim infrastruktur.

Problem infrastruktur memang bukan hal baru di industri pariwisata kita. Infrastruktur dalam hal ini bukan hanya jalan, tapi juga bandara, kelistrikan, akses internet, hingga infrastruktur penunjang macam hotel. Mari kita bedah dalam Travel and Tourism Competitiveness Index yang saban tahun dirilis World Economic Forum. Pada 2015, kesiapan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi kita berada di peringkat 85, masih ketinggalan dengan Malaysia yang berada di level 54. Itu kita belum bandingkan dengan negara lain yang pasti jauh lebih baik seperti Singapura atau Jepang.

Infrastruktur kelistrikan kita untuk menunjang pariwisata berada di peringkat 83, padahal Malaysia sudah di level 39. Kemudian infrastruktur kepelabuhanan kita berada di peringkat 77, Malaysia sudah 35. Di bidang infrastruktur layanan wisatawan seperti hotel dan jaringan ATM global, kita bahkan tersuruk di peringkat 101, jauh di bawah negara kompetitor lainnya di kawasan Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura.

Ketua Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas, Hiramsyah S. Thaib, mengatakan, saat ini pemerintah terus bekerja memacu pembangunan di destinasi-destinasi prioritas. ”Pemerintah sangat serius menjadikan sektor pariwisata sebagai tulang punggung perekonomian, sebagai penghasil devisa dan penyerap lapangan kerja yang sangat besar,” ujar Hiramsyah.

Dia mencontohkan pembangunan di kawasan Danau Toba yang terus dikebut. Total investasi di daerah tersebut mencapai USD 1 miliar atau tak kurang dari Rp 13 triliun. Jalan tol dibangun dari Tebing Tinggi ke Pematang Siantar, daya tarik wisata baru dibangun seperti geopark, Bandara Sibisa dipermak, dan air bersih disiapkan. Danau Toba yang memang mempunyai pemandangan alam super-dahsyat ditargetkan bisa menggaet 1 juta wisman pada 2019, dari posisi hanya sekitar 10.000 wisman pada 2013. Dengan 1 juta wisman tersebut, devisa USD 1 miliar juga diharapkan teraup dari destinasi yang berada di Provinsi Sumatera Utara tersebut.

Kawasan Mandalika juga siap bersolek habis-habisan. PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) sebagai pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika telah menyiapkan rencana induk yang sebagian sudah dieksekusi sejak tahun lalu. Tak tanggung-tanggung, investasi untuk pengembangan Mandalika mencapai USD 3,6 miliar. Tidak hanya dana dari ITDC dan pemerintah, investor swasta juga diberi akses luas.

”Dengan menjadi KEK, akses investor ke Mandalika akan sangat cepat. Ada BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) yang langsung buka di lokasi sana, jadi bisa 3 jam izin keluar. Sudah ada investor yang masuk, dan kami siap menyambut investor lainnya. Ini akan sangat prospektif dan menguntungkan,” ujar Dirut ITDC Abdulbar M. Mansoer.

Sejumlah infastruktur yang disiapkan di antaranya pembangunan pelabuhan cruise dan marina beserta fasilitas penunjangnya, pengembangan kargo logistik di Bandara Internasional Lombok, dan pembangunan kawasan konservasi mangrove.

Pemerintah kini memang terus bekerja ekstra keras dan cepat. Sepuluh destinasi prioritas itu diharapkan bisa menggaet 8,5 juta wisman atau sekira 45 persen dari target kunjungan wisman pada 2019. Total devisa yang digamit menembus USD 8,5 miliar. Tentu bukan target yang sepele.

”Pengembangan destinasi prioritas ini juga bakal memeratakan dan mengembangan ekonomi serta sektor pariwisata di sekitarnya. Seperti Bromo Tengger Semeru yang akan berimbas ke Banyuwangi yang sebelumnya banyak didukung oleh kawasan Bali Barat. Jadi pengembangan destinasi prioritas ini multiplier effect-nya luar biasa,” kata Hiramsyah. []

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: