Tingkatkan kualitas produksi garam, Pemprov Jatim rilis program rumah garam

Selasa, 28 Maret 2017 | 11:28 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pemprov Jatim terus berkomitmen meningkatkan mutu atau kualitas produksi garam rakyat di wilayah Jawa Timur. Untuk itu, pada tahun ini Pemprov Jatim telah meluncurkan program "Rumah Garam" di hampir seluruh sentra produksi garam Jatim.

Kepala Bidang Kelautan, Pesisir dan Pengawasan (KPP) Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim  Fatkhur Rozak .mengatakan bahwa saat ini volune garam rakyat yang diserap industri masih kecil di bawah 30%, sedangkan sisanya 70%  untuk garam konsumsi. Untuk itulah Pemprov Jatim meluncurkan program "Rumah Garam"

"Targetnya separo dari produksi garam rakyat bisa dipakai industri. Kami dorong penggunaan teknologi geo membrane. Selain itu, kami juga inisiasi program percontohan rumah garam,'' kata Fatkhur Rozak di Surabaya, Senin (27/3/2017).

Program "Rumah Garam" akan dibangun di 46 titik di 12 sentra produksi garam, seperti di Madura dan Tuban. Nantinya, di rumah garam tersebut akan diberi sarana berupa plastik khusus, sehingga bisa mempermudah pembuatan garam. ''Paling tidak, ketika hujan, masih bisa berproses,'' kata dia.

Alokasi anggaran untuk program rumah garam tersebut sekitar Rp 2 miliar. Anggaran tersebut separo dari total anggaran yang ditetapkan untuk pengembangan sektor garam. Yakni total sekitar Rp 4 miliar.

Selain itu, pihaknya juga menyiapkan program normalisasi tambak garam. 'Program ini dilakukan agar saluran air menuju tambak garam lancar. Karena air itu merupakan bahan baku garam. Program normalisasi tambak garam diterapkan di empat lokasi saja yang semuanya berada di Madura.

"Kami juga berikan bimbingan teknologi pada istri petani garam,'. Bagaimana cara pengolahan bahan baku garam menjadi produk siap pakai. Sampai mereka bisa mengemasi dan memasarkan sendiri. 'Program provinsi selaras dengan kementerian, salah satunya Pugar (pemberdayaan usaha garam rakyat),'' lanjutnya.

Sementara untum target produksi garam rakyat di Jatim di tahun ini dipatok  sebesar 1,1 juta ton dengan estimasi musim kemarau sekitar 5-6 bulan. ''Kalau sekarang masih hujan, tapi perkiraan Juni-Juli sudah masuk musim kemarau,'' ucap Fatkhur. Dan, kondisi iklim sendiri terbilang normal. Tidak seperti 2016 lalu di mana termasuk kemarau basah, sehingga dampak terhadap produksi garam besar.

''Dari target 1,068 juta ton, hanya tercapai 98.840 ton atau sekitar 9% dari target,'' sebut dia. Dampak dari rendahnya produksi pada tahun lalu, lanjut ia, wajar kalau ada impor garam pada tahun ini. Meski demikian ia meminta supaya ada pengaturan terhadap tata niaga garam impor, sehingga tidak bisa masuk ketika di dalam negeri sedang masa produksi.

''Yang kami takutkan, kalau garam impor masuk dan mengganggu garam lokal. Mudah-mudahan ada peraturan mengenai tata niaga, sehingga ketika panen tidak ada garam impor yang boleh masuk,'' tandas dia. Sementara tercatat kontribusi produksi garam Jatim terhadap nasional sebesar 60-70%. Karena itu Jatim juga memasok kebutuhan garam untuk daerah non produsen..kbc6

Bagikan artikel ini: