Berkenalan dengan Freddy Abdulah , sosok di balik kehebohan Mie Setan

Senin, 03 April 2017 | 15:18 WIB ET
Freddy Abdullah (baju putih) saat pembukaan kedai Mie Setan di kawasan Mulyorejo, Surabaya.
Freddy Abdullah (baju putih) saat pembukaan kedai Mie Setan di kawasan Mulyorejo, Surabaya.

MAKANAN bercita rasa pedas kini sedang digandrungi. Berbagai gerai restoran, warung makan hingga penjual makanan via online berlomba menghadirkan makanan pedas dalam menu mereka.

Salah satu gerai makanan pedas yang cukup populer di sejumlah kota besar adalah kedai Mie Setan. Kedai mie ini menyajikan menu utama mie goreng yang bisa dipesan dengan berbagai level kepedasan. Kedai ini cukup sukses dan populer khususnya di kalangan anak muda. Antrian panjang mengular di depan kasir sudah menjadi pemandangan lumrah di gerai ini. Antrian yang heboh itu pun lantas banyak memicu rasa penasaran konsumen untuk mencobanya.

Adalah Freddy Abdullah, pria yang pertama kali mengenalkan konsep gerai mie dengan level pedas bertingkat ini. Awalnya Freddy yang lama berkutat di bisnis konstruksi ini tidak terpikir untuk masuk ke bisnis kuliner.

“Awalnya dulu saya dan teman-teman sesama penghobi motor dan sepeda suka nongkrong di kantor saya sehabis jam kantor. Nah karena lewat jam kantor, tidak ada yang membuatkan minuman atau makanan karena office boy sudah pulang. Jadilah kami sering beli makanan di luar,” tuturnya.

Dari situ muncullah ide untuk membuka kedai di tempat nongkrong tersebut. Awalnya hanya kedai minuman, lalu berkembang menjadi kedai yang menjual mie.

“Kita terpikir makanan apa yang disukai semua orang dan mudah pengolahannya. Akhirnya dipilih mie, lalu saat itu sedang nge-trend keripik pedas maicih yang pakai level kepedasan dan saya terinspirasi oleh itu. Disitulah awalnya  saya membangun brand mie setan ini,” katanya.

Kini brand Mie Setan sudah berkembang dan populer khususnya anak muda. Saat ini Mie Setan sudah mempunyai 8 gerai. Di Malang sendiri ada 2 gerai, di Surabaya ada 4 gerai ditambah 2 gerai lagi masing-masing di Sidoarjo dan Samarinda.

Dalam mengembangkan Mie Setan, Freddy memilih untuk menerapkan strategi harga terjangkau. Di wilayah Jatim, Mie Setan dipatok di harga sekitar Rp 10 ribu per porsi.  Sedangkan di Samarinda, Kalimantan, harganya sedikit lebih tinggi yakni di kisaran Rp 14 ribu per porsi, namun masih sangat terjangkau di kalangan anak muda.

Dengan strategi harga terjangkau ini, Freddy mengaku bisa menjual ribuan porsi tiap hari. Rata-rata tiap hari 1.000-1.200 porsi Mie Setan ludes dipesan penikmat makanan pedas.

Freddy menggandeng istri tercinta untuk mengembangkan Mie Setan ini. “Istri saya yang jadi chef-nya, sedangkan saya fokus ke venue gerainya karena sesuai dengan background saya di dunia konstruksi,” tuturnya.

Untuk pengembangan konsep gerai, Freddy mengakomodir keinginan target pasarnya yakni anak muda dengan membuat gerai-gerai yang cocok untuk lokasi foto, atau istilah kekiniannya gerai yang instagramable.

Sukses mengembangkan Mie Setan, Freddy kini tertarik sepenuhnya di bisnis kuliner. Beberapa gerai restoran dan cafe didirikannya, diantaranya adalah Rumah Opa yang mengusung konsep vintage cafe ala Eropa. Ia juga membuat brand Noodle Inc yang terkenal akan menu Mie Tarik dan Dim Sum.

Freddy juga baru saja membuka gerai Restoran Astep di Malang yang berkonsep vintage dengan memanfaatkan lokasi di bangunan tua bekas rumah Jaman Belanda.

Kini Freddy sudah resmi beralih profesi dari bisnis konstruksi ke dunia kuliner. “Untuk konstruksi sudah saya lepaskan dan saya amanahkan ke adik saya. Sekarang saya fokus ke bisnis kuliner ini,” tandasnya. kbc8

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: