Belajar dari kisah Ali: Limbung bisnis warnet, kini berjaya di percetakan

Selasa, 04 April 2017 | 12:19 WIB ET

MASIH banyak orang takut mulai berbisnis karena cemas akan kegagalan. Padahal, hampir semua orang yang kini sukses pasti pernah merasakan kegagalan. "Tak masalah jatuh sepuluh kali, yang penting Anda bangkit sebelas kali," kata pengusaha properti ternama, Ciputra, suatu ketika.

Jatuh-bangun bisnis itu pula yang dirasakan Ali Imron. Pemuda 30 tahun ini sejak masa SMA di Bojonegoro, Jawa Timur, memang sudah punya keinginan untuk berwirausaha. Lulus SMA, Ali berhasil masuk ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Pria berkacamata ini mengambil jurusan manajemen.

Tak mau sekadar menekuni kuliah, Ali mulai belajar bagaimana praktik bisnis. Waktu itu, Ali mencari order untuk perusahaan percetakan. Dia membidik pasar sekolah. "Saya cari order, terus saya serahkan ke teman saya yang paham percetakan. Keluar-masuk sekolah saya lakukan supaya dapat order cetakan buku atau apa pun dari sekolah," ujar Ali kepada kabarbisnis.com.

Ali mengatakan, berjualan adalah prinsip dasar bisnis. Karena itu, yang kali pertama dia lakukan saat belajar bisnis adalah menjadi salesman paruh waktu untuk bisnis percetakan temannya. Dari sana dia mendapatkan komisi yang lumayan. "Dari sana pula saya belajar tentang seluk-beluk dunia percetakan yang akhirnya menghidupi saya dan keluarga di kemudian hari," ujar pria penggemar celana jins ini.

Sampai lulus kuliah, Ali terus berjualan cara jualan yang baik. Tak lama setelah lulus, Ali kemudian menikahi gadis pujaannya. Semangat bisnis Ali semakin menggebu karena dia sudah harus menafkahi keluarga.

Waktu itu, sekitar tahun 2008, bisnis warung internet (warnet) masih menjadi tren. Ali pun berpikir untuk membuka bisnis warnet. Kebetulan, di rumahnya di kampung di Bojonegoro ada sepetak ruang kosong yang bisa dimanfaatkan. Dia pun bergerak keluar-masuk bank untuk mencari pinjaman. Setelah pontang-panting mencari pinjaman modal di bank, Ali pun mulai membuka warnet. Total ada 20 komputer yang disediakan untuk para konsumen. Ali pun mudik ke Bojonegoro dari Surabaya.

Tak disangka, warnet Ali ternyata tak sepenuhnya berhasil. Biaya operasional membengkak. Di sisi lain, dia tak bisa menaikkan biaya sewa karena persaingan warnet yang juga ketat. Tak sampai setahun, pada 2009, bisnis warnet Ali pun gulung tikar. Dia menjual semua komputernya. Berbekal sisa tabungan dan hasil penjualan komputer, dia melunasi semua pinjaman modal di bank.

"Waktu itu saya benar-benar berada di titik nol. Saya sudah berkeluarga, bisnis warnet tutup, otomatis tak ada pemasukan," kisah Ali. Matanya menerawang mengingat masa-masa pahit itu.

"Tiap malam saya bangun, salat tahajud. Saya memohon kepada Tuhan. Menangis tiap malam. Tuhan sudah janji, setelah menikah pasti rezeki bisa berkah. Saya sujud menangis sejadi-jadinya," ceritanya.

Mental baja yang dimiliki Ali diuji. Dia pun memutar otak. Dari Bojonegoro, dia memutuskan kembali merantau ke Surabaya. Berbekal jaringan lama, Ali lalu merintis jasa percetakan. Dari pondokannya di kawasan Ngagel Surabaya, dengan motor, Ali mengelilingi Surabaya mencari order. "Saya bismillah saja. Insya Allah pasti ada jalan," ujarnya.

Setelah tiga tahun berjalan, dengan segala suka-dukanya, kerja keras Ali mulai berbuah manis. Order percetakan mulai mengalir lancar. Tercatat sejumlah rumah sakit, hotel, dan perusahaan mengorder ke Ali. Mulai dari buku agenda kerja, kalender, corporate identity, hingga majalah dia cetak.

Tak hanya itu, sejumlah SMA dia sasar untuk pengerjaan buku album kenangan. Tiap tahun, SMA pasti mengeluarkan buku album kenangan yang berisi profil dan kisah-kisah para pelajarnya. Sejumlah SMA favorit menjadi klien rutin Ali. Dalam bisnis ini, dia juga menawarkan jasa fotografi, desain, dan penulisan. "Jadi satu paket. Biarkan kami yang kerja keras, konsumen tinggal terima beres," kata Ali setengah berpromosi.

Dengan kerja keras, Ali kini mulai bisa menikmati hasilnya. Sebuah rumah di kawasan Rungkut, mobil, motor, hingga gadget terbaru dia miliki. Untuk workshop, dia menyewa sebuah rumah tak jauh dari rumah pribadinya. "Ikhtiar jangan pernah berhenti," pesannya.

Bagikan artikel ini: