Saya telah akuisisi bisnis, lalu selanjutnya apa?

Rabu, 05 April 2017 | 16:29 WIB ET

ADA banyak jalan untuk memulai bisnis. Salah satunya adalah dengan mengakuisisi sebuah perusahaan yang sudah ada. Berbeda dengan membeli sebuah franchise yang tentu saja Anda akan dibatasi oleh berbagai aturan main dari master franchise, mengambil alih sebuah perusahaan yang independen memberikan Anda kesempatan untuk mengimplementasikan gagasan-gagasan Anda.

Namun, Anda juga tidak bisa begitu saja mengubah dan mengganti model bisnis, karena Anda akan membutuhkan kepercayaan dan respek staf yang ada di dalam perusahaan yang Anda akuisisi itu. Dibutuhkan manajemen transisi yang baik untuk memuluskan tahapan pascaakuisisi.

1. Lakukan audit pada proses

Ketika Anda merencanakanuntuk melakukan akuisisi, Anda mungkin telah memelajari cara kerja perusahaan tersebut. Namun, Anda mungkin tidak akan bisa benar-benar paham hingga Anda terlibah di dalamnya. Tiap perusahan itu unik dan seorang entrepreneur harus sepenuhnya mengerti sebelum memutuskan perubahan yang akan dilakukan. Disarankan untuk melakukan audit terhadap perusahaan yang diakuisisi untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada. Jika memungkinkan dan ada budget yang memadai, tidak ada salahnya untuk menghadirkan pihak ketiga untuk melakukan audit mengenai proses, meninjau sistem, dan mencari kelemahan yang ada di perusahaan baru Anda.

2. Berkomunikasi dengan staf yang ada

Proses akuisisi kerap menimbulkan ketakutan para staf, terlebih jika pemilik baru berencana untuk membawa staf baru. Solusinya ada;ah transparansi kepada para pekerja. Segera bicara dengan mereka dan pastkan mereka paham keinginan pemilik baru untuk lebih mengenal mereka dan perusahaan. Lakukan komunikasi baik secara verbal maupun tulisan. Berbicaralah tentang rencana 3 bulan ke depan. Rencana tentang bagaimana Anda ingin lebih mempelajari tentang divisi-divisi yang ada, bertemu dengan sebanyak mungkin anggota tim di perusahaan dan menggali informasi mengenai karyawan dan perusahaan. Jika memungkinkan, sesi pertemuan diatur dalam pertemuan personal, bukan dalam kelompok. Lebih baik lagi jika dilakukan dalam suasana yang informal, sehingga karyawan lebih nyaman dan terbuka dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan.

3. Pelajari dan pahami budaya perusahaan

Sebelum mengubah budaya perusahaan, ada baiknya untuk memahami budaya perusahaan yang selama ini telah ada. Hal tersebut bisa menjadi kunci penting dalam usaha evolusi budaya perusahaan karena menciptakan budaya perusahaan adalah sebuah proses organik. Anda tidak bisa begitu saja memberikan saran untuk berubah dan memaksakan budaya baru tersebut bisa cepat diadopsi.

4. Rencanakan perubahan dengan hati-hati

Membuat berbagai perubahan signifikan dalam satu waktu tidak selalu menjadi pendekatan yang terbaik dalam mengambil alih sebuah bisnis. Meskipun perubahan tersebut bertujuan baik, namun sebuah perubahan besar tidak bisa dilakukan dalam semalam. Sebaiknya, perubahan dilakukan untuk meminimalisir ketidaknyamanan para pekerja dan pelanggan akibat adanya akuisisi bisnis. Biasanya, sebuah akuisisi akan diikuti oleh tingkat ketidakpastian yang tinggi, sehingga tugas utama adalah menciptakan stabilitas untuk menjaga kepercayaan. Namun, perubahan bukanlah hal yang wajib untuk dilakukan. Jika kondisi perusahaan memang sehat dan tidak bermasalah, tak perlu memasukkan perubahan. Jangan pernah memperbaiki sesuatu yang tak rusak.

5. Transparan tentang semua perubahan yang akan dibuat

Perubahan bisa menjadi sulit bagi pihak-pihak yang terkait dan tidak selalu menyenangkan untuk menghadirkan perubahan. Jika memang akan mengubah sesuatu, sebaiknya terbuka dan transparan mengenai segala bentuk rencan untuk berubah. Biasanya, pekerja dan pelanggan akan lebih bisa menerima perubahan tersebut ketika mereka mengetahui alasan harus adanya perubahan. kbc3

Bagikan artikel ini: