loading...
Kategori
PerspektifOpini
Mode Baca

Pusat bisnis

Online: Senin, 02 Maret 2009 | 23:50 wib ET

Mimpi Surabaya atau Jawa Timur (Jatim) sebagai pusat bisnis Indonesia memang tampak sexy. Namun, agar mimpi itu tidak sekedar menjadi retorika politik atau jargon ekonomi, kita perlu menyadari bahwa pencapaian mimpi itu akan melewati, seperti judul lagu The Beatles, Long and Winding Road.

Agar mimpi itu lebih spesifik dan realistis menurut perspektif ekonomi, kita perlu terlebih dahulu memahami logika dan kekuatan-kekuatan ekonomi apa yang membentuk arah 'jalan panjang dan berangin' itu. Melihat sejarah yang pernah mencatat Surabaya sebagai pusat bisnis mungkin inspiratif, tapi gambaran lebih lengkap mungkin akan lebih bisa diberikan oleh kerangka formal model ekonomi tentang lokalisasi industri.

Dalam skala global, sejarah pun mencatat bahwa pada 1750, lebih dari separuh output industri dunia diproduksi di China dan India, sementara Eropa Barat hanya menyumbang 18%. Namun sejak 1830, China dan India mengalami penurunan secara tajam, baik diukur secara relatif maupun absolut, produksi barang-barang industrinya.

Peran China dan India sebagai pusat ekonomi dunia telah digantikan Inggris dan Eropa Barat. Berikutnya, kawasan Amerika Utara mulai menyusul sejak periode 1870-1950. Pada periode sejak 'jaman keemasan' pertumbuhan pasca-perang Dunia II sampai 1998, data kembali mencatat peningkatan pesat kontribusi Jepang, China, dan beberapa negara Asia Timur dalam Produk Domestik Bruto dan output industri dunia (Bairoch, 1982).

Berulang atau tidak berulangnya sejarah tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Mengikuti dialektika historis Karl Marx, bukankah struktur ekonomi dan interaksi para agen ekonomi yang membentuk sejarah? Bukan sebaliknya. Lantas, kekuatan apakah yang mampu mengubah atau membentuk geografi ekonomi? Faktor apakah yang akan menjadikan kawasan ekonomi periphery (pinggiran) menjadi core (pusat)? Dengan lain kata, faktor apa yang menentukan sebuah wilayah akan menjadi tempat yang menguntungkan bagi pelaku bisnis untuk berlokasi?

Lokasi aktifitas bisnis

Terlepas dari variasi analisis dan penjelasan yang sangat beragam, mulai yang klasik seperti Marshall (1920) dan Hoover (1948) sampai yang 'terkini' seperti madzab 'fondasi mikroekonomi' (Porter, 1990) maupun madzab 'New Economic Geography' (Krugman, 1991), ada satu preposisi umum yang bisa ditarik tentang lokasi yang menarik bagi suatu entitas bisnis, yaitu: harga dan ketersediaan faktor produksi yang dibutuhkan, kedekatan dengan pasar dan pasokan intermediate input (baca: kedekatan dengan perusahaan-perusahaan lain sejenis dalam industri yang sama atau yang berbeda namun terkait).

Selain dapat menekan ongkos transportasi, kedekatan geografis antarsesama pelaku bisnis terkait ini juga memberikan manfaat lain, yaitu: pertukaran ide dan gagasan yang lebih intens guna memacu inovasi. Hal ini sangat dibutuhkan, terutama dalam industri-industri berbasis pengetahuan. Itulah alasan mengapa perusahaan film akan memilih Hollywood sebagai lokasi usahanya yang kemudian akan menggerakkan proses aglomerasi industri perfilman di Hollywood dan pada akhirnya menjadikan Hollywood sebagai pusat industri perfilman.

Mekanisme serupa juga yang menjadikan Silicon Valley menjadi pusat industri teknologi informasi, New Jersey dan Switzerland sebagai pusat industri farmasi, dan London sebagai pusat industri jasa finansial. Argumen knowledge spillovers ini merupakan penjelas mengapa industri-industri tertentu masih memusat di kawasan-kawasan geografis tertentu, meski ongkos transportasi dan komunikasi saat ini telah menurun tajam dibandingkan awal Abad 20 (yang seharusnya justru memecah sentralisasi industri).

Ongkos buruh murah tampaknya juga tidak selalu relevan dijadikan sebagai daya tarik bisnis. Namun sebaliknya, pasokan tenaga kerja berketrampilan tinggi dalam bidang tertentu lah yang diminati. Upah tenaga kerja di Paris masuk dalam kelompok paling mahal di Eropa, toh ini tidak menghalangi Hewlett-Packard menjadikan Paris sebagai lokasi pusat penelitian dan pengembangan divisi optik-nya. Sebab, Paris mempunyai banyak sumber daya (manusia, tradisi, dan akumulasi pengalaman serta pengetahuan) yang menguasai teknologi optik terkini.

Faktor lain yang sering disebut (misal: tingkat kriminalitas, kemacetan, dan polusi) mungkin berperan sebagai faktor keputusan lokasi. Meskipun demikian, kasus London (dan untuk tingkat tertentu, Jakarta) tampaknya perlu dianggap sebagai perkecualian.

Survei terbaru yang diadakan Komisi Uni Eropa menemukan beberapa alasan teratas perusahaan multinasional menjadikan London sebagai lokasi adalah: kemudahan akses dari/ke bandar udara Heathrow, akses ke pasar Eropa, dan ketersediaan banyak tenaga kerja dengan kualifikasi tinggi.

Dengan alasan serupa, mungkin inilah yang masih menjadikan Jakarta sebagai 'pusat segalanya', meski Jakarta sejak era 1980an juga telah mengalami proses sub-urbanisasi, yaitu peluberan aktifitas ke daerah sekitarnya (Bogor, Tangerang, dan Bekasi). Namun tetap saja, Jakarta masih menjadi core bagi kawasan itu.

Untuk menjadi 'pusat', Surabaya dan/atau Jawa Timur tampaknya perlu mengabaikan 'khotbah' Schumpeter bahwa small is beautiful. Sebaliknya, perlu mengikuti motto film Jurrasic Park bahwa size matters! Semakin 'besar ukuran', kian berpotensi untuk menjadi 'pusat'. Ukuran ini tentu saja bukan sekedar soal luas wilayah, tapi seberapa besar skala ekonomi internal dan eksternal ekonomi Jawa Timur.

Skala ekonomi internal berlaku dalam level perusahaan/pelaku bisnis di Jawa Timur yang menyangkut soal-soal seperti efisiensi, pasar yang dimiliki, dan adopsi teknologi untuk meningkatkan produktifitas. Skala ekonomi eksternal berlaku dalam level perekonomian yang menyangkut soal keterkaitan industri hulu-hilir dan pertukaran gagasan antarpelaku bisnis. Kedua jenis skala ekonomi ini membutuhkan kualitas kebijakan publik pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota yang baik.

Prioritasnya, menyiapkan sumber daya dan mengidentifikasi dalam sektor apa kita sebaiknya menjadi 'pusat'. Karena, alokasi sumber daya dapat menjadi tidak fokus jika ambisinya adalah menjadi 'pusat segalanya'. If you want to be everything, you may end up as nothing!

Mahasiswa PhD Regional Science/Urban and Regional Planning di University of Illinois at Urbana-Champaign, USA

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
10/24/2014
12.067
IHSG
10/24/2014
5.073,07
-30,45 (-0,60%)