Deregulasi kendor, HIPMI kecewa kini muncul regulasi baru yang persulit dunia usaha

Kamis, 27 April 2017 | 15:00 WIB ET
Ketua Umum BPP Hipmi Bahlil Lahadalia
Ketua Umum BPP Hipmi Bahlil Lahadalia

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) menilai deregulasi yang diluncurkan dua tahun lalu mulai mengendor dan berubah menjadi aturan baru (reregulasi). “Ada puluhan aturan baru yang dibuat kementerian yang bertentangan dengan semangat deregulasi. Kami harap ditinjau kembali,” ujar Ketua Umum BPP HIPMI Bahlil Lahadalia.

HIPMI, tegas Bahlil, konsisten mendukung kebijakan deregulasi pemerintahan Jokowi-JK guna mendorong gairah investasi dan perekonomian di Tanah Air. Sebab itu, regulasi-regulasi baru yang mempersulit dunia usaha sebaiknya dikaji kembali.

“Misalnya investasi di energi baru terbarukan, transportasi, ada lebih dari 22 aturan baru di kementerian yang justru bertentangan dengan semangat deregulasi,” papar Bahlil.

Ia mengatakan, saat ini berbagai negara mulai bersolek dan melakukan deregulasi guna menarik investasi ke negeranya masing-masing. Sehingga banyak investor yang pulang kampung. Bahkan negara sebesar Amerika Serikat telah memangkas corporate tax hingga 15%. ”Sebab itu, persaingan menarik investasi semakin ketat dan berat. Kita bersaing dengan negara asal investor,” papar Bahlil.

Dia mengatakan, regulasi baru yang dirilis kementerian banyak membuat pelaku usaha merasa tidak nyaman dan menghilangkan optimisme. “Tentu dapat membuat target investasi di 2017-2018 bisa meleset. Belum lagi ke depan kita perlu memastikan kepastian pasokan energi untuk menopang pertumbuhan ekonomi di atas 5% per tahun,” ujar Bahlil.bc9

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: