Tingkatkan pasokan pangan, BI dorong budidaya padi organik di Banyuwangi

Kamis, 27 April 2017 | 18:17 WIB ET

BANYUWANGI, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur akan terus mendorong budidaya padi organik di Jatim melalui program kluster di beberapa daerah salah satunya di Kabupaten Banyuwangi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jatim, Difi Ahmad Johansyah, mengatakan pengembangan budidaya padi organik ini merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan pasokan pangan dalam rangka mengendalikan inflasi.

“Kami terus mendorong budidaya organik, terutama untuk meningkatkan pasokan pangan dalam rangka pengendalian inflasi. Disamping itu, pengembangan budidaya organik ini juga diharapkan dapat memperbaiki alam karena teknik pengolahannya yang ramah lingkungan,” ujarnya di sela panen padi beras merah organik di Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Rabu (27/4/2017).

Dalam panen padi perdana tersebut, ada 42 hektar lahan padi organik yang dipanen. Saat ini di Kabupaten Banyuwangi terdapat 120 hektar lahan padi organik yang sudah tersertifikasi.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi, Arief Setiawan, mengatakan budidaya padi oranik di Banyuwangi akan terus digencarkan dengan menargetkan perluasan lahan pertanian padi organik menjadi 200 hektar.

“Jumlah ini memang masih cukup kecil bila dibandingkan dengan luasan baku sawah di Kabupaten Banyuwangi yang mencapai 65.540 hektar. Meski demikian, ini adalah awal yang baik untuk mejadikan Banyuwangi sebagai salah satu sentra pertanian padi organik di Indonesia,” kata Arief.

Ia menuturkan, budidaya padi organik sebenarnya memberikan banyak manfaat kepada petani. Selain tanah menjadi lebih subur, harga jual padi organik juga jauh lebih tinggi dibandingkan padi konvensional. Minimal, petani bisa mendapatkan selisih harga hingga 30% dibandingkan padi konvensional.

Permintaan padi atau beras organik pun saat ini juga terus mengalir baik dari dalam maupun luar negeri. Kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta hingga Bali menjadi pasar yang paling besar untuk produk beras organik.

Meski memberikan banyak keuntungan, namun diakui Arief saat ini petani masih sedikit yang mau membudidayakan beras organik karena prosesnya yang lama dan membutuhkan lebih banyak proses.

“Untuk bisa mendapatkan produk padi organik yang sesuai standar dibutuhkan waktu minimal 4 tahun, ini yang membuat petani masih enggan membudidayakan padi organik. Meski demikian kami terus meberikan sosialisasi dan pendampingan kepada petani agar mau beralih ke pertanian organik,” tutur Arief. Kbc8

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: