Bupati Anas dan kisah santunan anak yatim

Jum'at, 28 April 2017 | 03:57 WIB ET

BANYUWANGI, kabarbisnis.com: Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas punya kebiasaan yang selalu konsisten dijalankannya sejak menjabat sebagai bupati, yaitu memberi santunan anak yatim saat sebelum acara dimulai. Setiap acara yang digelar oleh pemerintah daerah, dari tingkat kabupaten hingga desa, selalu diawali dengan santunan anak yatim. Sebelum acara dimulai, pasti ada perwakilan anak yatim di sekitar lokasi acara yang diberi santunan.

Anas mengatakan, tradisi ini selain untuk memperkuat solidaritas sosial, juga untuk memohon doa agar semua agenda pengembangan daerah dilancarkan. Kalau pun ada tantangan, secara bersama-sama bisa diselesaikan. "Doa anak yatim itu tiada tanding. Tidak mungkin Banyuwangi bisa terus berkembang seperti saat ini tanpa doa anak yatim. Itu saya yakini betul, 1000 persen," kata bupati berusia 43 tahun itu.

Semula, lanjut Anas, tradisi memberikan santunan anak yatim hanya dilakukan pada acara yang dihadirinya sebagai bupati. Tapi sekarang semua acara juga menjalankan kebiasaan tersebut, dari tingkat kabupaten sampai desa, bahkan juga di banyak acara sekolah. "Semuanya tergerak. Ini juga sekaligus upaya kita menyebarkan semangat solidaritas sosial," papar Anas.

Anas menyadari, tidak ada daerah yang tanpa masalah dan tantangan. Tapi dengan program yang dijalankan seluruh elemen, semua masalah dan tantangan bisa dihadapi. "Insya Allah makin lancar kalau doa anak yatim terus mengalir," kata Anas.

Anas menambahkan, selain dengan kegiatan yang bersifat amal berupa santunan, baik ketika acara pemerintahan maupun berbagai program melalui Badan Amil Zakat Nasional, upaya memperhatikan anak yatim juga dilakukan dalam berbagai program strategis pemerintah daerah. Di antaranya adalah beasiswa Banyuwangi Cerdas dan gerakan Siswa Asuh Sebaya. Beasiswa Banyuwangi Cerdas antara lain juga menyasar anak yatim berprestasi untuk dikuliahkan sampai selesai ke perguruan tinggi. Adapun gerakan Siswa Asuh Sebaya menggalang solidaritas antara siswa dari keluarga mampu dan yang kurang mampu.

"Solidaritas sosial yang dipadu dengan program formal pemerintah daerah akan bisa mengangkat kelompok rentan, termasuk anak yatim dari keluarga kurang mampu, ke jenjang yang lebih baik," kata suami Ipuk Fiestiandani ini. 

Bagikan artikel ini: