RI rangkul Denmark gali potensi energi dari angin

Selasa, 02 Mei 2017 | 19:11 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjalin kerja sama dengan Pemerintah Denmark untuk mengembangkan tenaga angin untuk pembangkit listrik. Kerja sama ini sebagai dukungan Denmark kepada Pemerintah Indonesia dalam memenuhi target penggunaan energi terbarukan sebesar 23 % dari total konsumsi energi nasional pada tahun 2025.

Kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan Denmark ini ditandai dengan peluncuran peta dan studi energi angin. Peta angin untuk melihat kota-kota di Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan pembangkit listrik berbasis angin.

Peluncuran itu dihadiri Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Menteri Kerja Sama Pembangunan Denmark Ulla Tornaes. Jonan mengatakan kerja sama tersebut terjalin lantaran komitmen Denmark untuk energi terbarukan sejalan dengan Indonesia.

Apalagi 40% energi  atau 5 Giga Watt (GW) yang ada di Denmark juga bersumber dari angin. "Kami mendorong kerja sama yang dapat mendukung kementerian untuk program energi terbarukan bagi elektrifikasi kami," kata Jonan di Jakarta, Selasa (2/5/2017).

Menurut mantan Menteri Perhubungan ini potensi energi baru terbarukan masih besar di Indonesia, khususnya di kawasan timur Indonesia. Dengan berkembangnya energi baru terbarukan harapannya bisa juga menekan harga listrik di masyarakat.

Data Kementerian ESDM pada 2015 menyebutkan, Indonesia memiliki potensi dan cadangan energi terbarukan yang belum secara sungguh-sungguh dimanfaatkan dan dikembangkan. Potensi panas bumi mencapai 29.4 MW, tenaga matahari 112 GWp, hidro dan minihidro 75 GW, energi berbasis bayu atau angin memiliki potensi 950 MW, sedangkan biofuel dan biomassa memiliki potensi  sekurang kurangnya 60 GW.

Kesempatan sama, Ulla Tornaes optimistis Indonesia dapat menciptakan energi yang ramah lingkungan. Optimisme ini mengacu pengalaman dari Denmark 14 tahun lalu yang 100% masih menggantungkan kebutuhan energi dari minyak impor asal Timur Tengah.

Akibat ketergantungan itu, ketika harga minyak dunia meningkat pada 1970-an, Denmark mulai mencari akal untuk mereformasi sistem energi negaranya. Inilah cikal bakal pemanfaatan energi angin. "Dengan tersedianya semua sumber daya alam yang melimpah, tidak ada alasan mengapa Indonesia tidak bisa menjadikan energi terbarukan sebagai sumber energi," kata Ulla.

Selain itu, harga listrik dari tenaga angin di Denmark juga murah, dengan biaya produksi mencapai US$6 sen per kilowatt hour (kWh). Ini karena iklim investasi di negara itu baik dan dukungan insentif dari pemerintah Denmark.

Dirjen Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan saat ini potensi energi angin di Indonesia telah teriteridentifikasi di beberapa lokasi, seperti di Jawa, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara dan Maluku. Adapun beberapa pembangkit listrik tenaga angin sudah dalam tahap pembangunan di beberapa lokasi yakni Sukabumi dan Sidrap.

Menurut Rida salah satu perusahaan Denmark juga berencana membangun pembangkit tenaga angin di Solo tahun depan. "Solo itu sudah ditandatangan dengan Denmark tahun 2018 mungkin jadi (dibangun)," kata dia.

Berdasarkan dokumen Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017-2026, beberapa pengembang telah mengusulkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di sejumlah lokasi seperti Sukabumi, Banten, Sidrap, Bantul dan Jeneponto. Hingga tahun 2025, direncanakan potensi PLTB sebesar 2.500 MW. Adapun skema pengembangan PLTB tersebut melalui program pemerintah melalui skema feed in tariff atau negosiasi dengan PLN. kbc11

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: