Margin tipis, pengembang masih pikir-pikir garap rumah MBR

Senin, 15 Mei 2017 | 07:33 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pelaksanaan program pembangunan rumah bagi kelas bawah yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 64 tahun 2016 lewat label Program Sejuta Rumah rupanya masih belum optimal. Salah satu penghalang utama adalah tipisnya margin para pengembang rumah tersebut.

Sekretaris Jenderal Real Estat Indonesia (REI), Totok Lusida mengatakan, margin bruto para pengembang dalam menggarap proyek hunian kelas bawah cuma sekitar 10%. "Margin tersebut masih bruto, belum dipotong bunga dan overhead cost," jelasnya, baru-baru ini.

Apalagi, lanjut dia, REI sudah mengerek target penjualan hunian kelas bawah tersebut dari 150.000 unit (tahun lalu) menjadi 200.000 unit. Tapi hingga kuartal I tahun ini, realisasinya baru mencapai 20% alias baru terjual 40.000 unit.

Totok berharap, pemerintah pusat dan daerah bersinergi mendukung program sejuta rumah tersebut. Sebab, menurut hitungan REI, jumlah kekurangan pasokan rumah (backlog) saat ini sudah mencapai 11,4 juta unit. Jumlah itu bisa terus membengkak, mengingat tingkat angka kelahiran Indonesia per tahun bisa mencapai 3 juta penduduk per tahun.

Makanya Totok berharap, selain dari Perum Perumnas, pengembang swasta juga mau menggarap proyek sejenis. "Properti itu create value, dari tanah mentah bisa naik bila ada perumahan," tandasnya.

Ironisnya, sejumlah pengembang swasta hingga kini cenderung masih ogah terjun di program sejuta rumah. Mereka lebih memilih bermitra dengan pengembang yang memang khusus menggarap proyek hunian kelas bawah seperti rumah susun sederhana (rusunami).

Menurut Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk, Theresia Rustandi, pihaknya sengaja memilih bermitra lantaran ada dua keuntungan. Pertama, masing-masing pihak konsentrasi sesuai keahlian mereka, sehingga tidak saling berkompetisi. Intiland misalnya, di proyek non subsidi dan pengembang lain di proyek subsidi.

Kedua, lewat kerjasama, bisa saling berbagi ilmu proyek properti. "Ada transfer pengetahuan dan teknologi, bahkan juga masuk kemitraan pendanaan," ucap Theresia seperti dilansir dari Kontan.

Sayangnya, dia tidak menjelaskan detail jenis proyek yang tengah digarap, termasuk mitra kerja dari pengembang tersebut.

Sementara PT Metropolitan Land Tbk (Metland) masih belum menggarap proyek hunian kelas bawah lantaran ketersediaan lahan yang ada belum cocok untuk dibangun proyek tersebut. "Saat ini belum berencana membangun hunian untuk MBR. Belum ada lokasi yang sesuai," tutur Direktur Keuangan Metland Olivia Surodjo.

Sejatinya, 5 tahun 10 tahun lalu, pengembang ini pernah menggarap hunian tapak subsidi. Tapi proyek ini tidak berlanjut, lantaran harga tanah semakin mahal.

Begitu pula PT Megapolitan Development Tbk (EMDE), belum ada niat menggarap proyek hunian murah. Menurut Direktur Keuangan Megapolitan Development Fanny Susanto, pihaknya saat ini masih fokus menggarap hunian menengah atas. "Margin net profit hunian middle up sekitar 10% sampai 15%," terang Fanny. kbc10

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: