21 Tahun dikelola orang tua, Brian rebranding Restoran Mutiara jadi kekinian

Selasa, 16 Mei 2017 | 08:13 WIB ET

MEMIKUL beban untuk meneruskan dan membesarkan bisnis keluarga yang sudah berjalan selama 21 tahun adalah tugas yang tidak ringan. Hal itu pula yang dirasakan Brian Soetanto saat diserahi tugas orang tuanya mengelola bisnis keluarga, Restoran Mutiara. Ya, restoran yang berlokasi di kawasan Manyar Kertoarjo IV ini didirikan sang ayah, Tjipto Soetanto pada tahun 1996, dan mampu bertahan hingga sekarang.

Menariknya,  Brian bukan sekadar meneruskan bisnis yang sudah ada, namun dia pandai mengkreasi menu dan 'roh' restoran yang dulunya konvensional menjadi kekinian, sehingga mampu menggaet konsumen anak muda.

Dipaparkan Brian, dirinya sejatinya bangga dengan perjuangan sang ayah dalam membesarkan dan menjaga loyalitas konsumen di restoran yang dikelola keluarga. Namun seiring dengan perkembangan zaman serta ketatnya persaingan antar restoran dan kafe, dirinya tidak ingin membiarkan Restoran Mutiara hanya begitu-begitu saja.

"Nah, ketika saya kuliah di Melbourne dan Shanghai, karena memang saya dasarnya suka kuliner, saya banyak mengamati sejumlah restoran dan pusat kuliner di kota-kota tersebut, apa yang sekiranya bisa diterapkan di Restoran Mutiara," jelasnya.

Menurut pandangannya, restoran yang otentik mampu menyedot banyak konsumen. Satu kunci itu akhirnya dia temukan. "Sejak itu saya berobsesi untuk menjadikan Restoran Mutiara menjadi restoran di Indonesia yangg otentik, artinya memiliki jati diri. Apa itu, yakni kita berupaya membawa konsumen kembali ke nuansa tempo dulu," papar Brian.

Selain mengubah nama restoran menjadi Mutiara Indonesian Cuisine, dia juga menyulap konsep layanan hingga interior dan eksterior restoran menjadi kekinian, sehingga anak-anak muda pun suka dan nyaman.

"Kita tetap mempertahankan menu Indonesia. Namun dengan konsep baru. Kita jual 100 persen menu Indonesia, tapi dikemas internasional," tukasnya.

Lie Luther selaku konsultan Mutiara Indonesian Cuisine menambahkan, konsep membawa konsumen bernostalgia ke masa lalu itu diantaranya diterapkan dengan menu-menu tradisional namun dengan layanan internasional. Juga konsep membawa jajan pasar yang asli dari penjualnya, seperti bubur Madura, kue leker, rangin, dan sebagainya. Dia boyong penjualnya ke restoran setiap akhir pekan, namun dengan harga yang sama dengan harga yang dipatok sang penjual di tempatnya.

"Itu namanya kita menerapkan konsep Pop Up, dimana kita bersinergi dengan pihak lain, bahkan yang pasarnya sama dengan kita. Konsep inii sudah dilakukan beberapa restoran di luar negeri dan Jakarta. Misalnya kita bawa kopi Nusantara dengan memboyong barista. Atau yang sudah kita lakukan adalah membawa barista dari Melbourne dan Singapura ke sini. Ini yang namanya Indonesia otentik namun dikemas internasional," bebernya.

Sementara dari sisi interior, dia menerapkan konsep kafe, dengan disediakannya smoking area di luar ruangan, namun tetap asri dan nyaman untuk nongkrong. "Artinya tempat ini bisa untuk lunch, namun juga pas untuk nongkrong di malam hari," kata Luther.

Soal menu, dia menyebut tetap mengandalkan menu Indonesia, seperti ikan, ayam, dan menu lain. Namun untuk andalan di Mutiara Indonesian Cuisine, adalah ayam goreng gurih bawang putih. "Menu ini bisa dikatakan andalan di sini dan banyak diburu konsumen," ungkapnya.

Dengan kapasitas 100 tempat duduk, restoran ini juga menyediakan empat ruang VIP dengan kapasitas mulai 10 orang hingga 50 orang.

Hasilnya pun mulai dirasakan Brian, sang ayah Tjipto Soetanto, dan Luther, dimana sejak konsep baru itu diterapkan, omzet penjualannya mampu melesat. kbc7

Bagikan artikel ini: