Survei BI: Harga properti residensial di awal 2017 naik

Selasa, 16 Mei 2017 | 11:57 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) mencatat harga properti residensial di Indonesia pada Triwulan I/2017 mengalami peningkatan. Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR), Indeks Harga Properti Residensial pada tiga bulan pertama 2017 menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, baik secara triwulanan maupun tahunan.

Secara triwulanan, harga properti residensial meningkat dari 0,37% (qtq) menjadi 1,23% (qtq) dan secara tahunan meningkat dari 2,38% (yoy) menjadi 2,62% (yoy). Kenaikan harga bahan bangunan dan upah pekerja masih menjadi faktor utama penyebab kenaikan harga rumah.

Secara triwulanan (qtq), kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah, terutama rumah tipe kecil. Hasil survei mengindikasikan bahwa semua tipe rumah mengalami kenaikan harga. Kenaikan tertinggi terjadi pada rumah tipe kecil, dari 0,57% (qtq) menjadi 1,84%, (qtq), diikuti rumah tipe menengah dari 0,23% menjadi 1,28% dan rumah tipe besar dari 0,30% (qtq) menjadi 0,58% (qtq).

Berdasarkan wilayah, Surabaya tercatat mengalami peningkatan harga tertinggi (3,04%, qtq) terutama pada rumah tipe kecil (4,31%, qtq), sementara Padang mengalami peningkatan harga terendah (0,07%, qtq).

Secara tahunan, harga properti residensial juga mengalami kenaikan sebesar 2,62% (yoy), lebih tinggi dibandingkan 2,38% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Berdasarkan tipe rumah, kenaikan harga rumah terjadi pada semua tipe rumah, terutama tertinggi pada rumah tipe kecil (3,86%, yoy). Berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah tertinggi terjadi di Manado (9,37%, yoy), sementara kenaikan harga rumah terendah terjadi di Pontianak (0,15%, yoy).

Survei Harga Properti Residensial (SHPR) merupakan survei triwulanan yang dilakukan terhadap sampel pengembang proyek perumahan (developer) di 14 kota yaitu Jabodebek dan Banten, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Manado, Makasar, Denpasar, Pontianak, Banjarmasin, Bandar Lampung, Palembang, Padang, dan Medan.

Jumlah responden mencakup pengembang di wilayah Jabodebek-Banten, dan pengembang di 15 Kantor Perwakilan Dalam Negeri Bank Indonesia (KPwDN). Pengumpulan data dilakukan secara langsung (face to face) mencakup data harga jual rumah, jumlah unit rumah yang dibangun dan dijual pada triwulan bersangkutan serta prakiraan harga jual rumah dalam triwulan berikutnya. kbc8

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: