Pemikiran La Nyalla: Wajah Pancasila Hari Ini

Rabu, 17 Mei 2017 | 10:53 WIB ET
La Nyalla Mahmud Mattalitti
La Nyalla Mahmud Mattalitti

KETUA MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattalitti, diundang menjadi pembicara dalam Seminar Nasional “Dinamika Peran Pemuda dalam Menjaga Keutuhan NKRI” di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Surabaya, Rabu (17/5/2917). La Nyalla yang dikenal sebagai pengusaha dengan keberpihakan tinggi ke kaum menengah ke bawah memaparkan tentang sejumlah tantangan bangsa, dan bagaimana kaum muda harus menjawab tantangan tersebut. Berikut makalah lengkap yang disampaikan pendiri organisasi sosial La Nyalla Academia itu:

Wajah Pancasila Hari Ini

Oleh: La Nyalla Mahmud Mattalitti

DALAM makalah ini, saya tidak akan mengupas tentang sejarah peran pemuda dalam kemerdekaan Indonesia. Karena saya yakin, kita semua, terutama para mahasiswa dan insan terdidik di sini, sudah pernah membaca bagaimana lahirnya Sumpah Pemuda hingga bagaimana Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan negeri ini. Atau bagaimana Bung Tomo dan tokoh-tokoh muda di Kota Surabaya mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia.

Posisi Pemuda Pancasila, sebagai organisasi masyarakat yang sebagian besar pengurusnya adalah para pemuda juga sudah cukup jelas mendeklarasikan bahwa NKRI adalah pilihan yang harus dipertahankan. Pemuda Pancasila juga senantiasa melakukan upaya untuk memastikan Pancasila sebagai Ideologi bangsa ini, benar-benar menjadi  pandangan hidup dan nilai-nilai serta pedoman perjalanan Negara ini. Siapapun pemerintahannya.

Karena itu, sebagai kader Pemuda Pancasila, saya lebih tertarik berbicara tentang Ideologi bangsa ini. Pancasila dengan Lima Sila-nya. Yang merupakan gagasan besar para pendiri negeri ini yang harus diimplementasikan. Sehingga memastikan bingkai NKRI tetap akan terjaga.

Sehingga dalam makalah ini, saya akan berbicara tentang hari ini dan akan datang. Dalam konteks dinamika Pemuda Indonesia. Dan kita harus jujur dalam memotret situasi dan kondisi pemuda Indonesia hari ini. Sehingga kita bisa mengukur atau menelaah bagaimana masa depan Republik Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan.

SALAH satu doktrin peperangan moderen untuk menguasai suatu bangsa, adalah dengan melemahkan segala sendi generasi mudanya. Lemahkan mentalnya. Lemahkan fisiknya. Lemahkan semangatnya. Lemahkan spiritnya. Segala sendi.

Doktrin itu ada karena meyakini betapa penting dan strategis posisi generasi muda. Karena merekalah penerus dan pemegang kendali atas bangsanya di kemudian hari. Merekalah yang akan menentukan wajah dan arah perjalanan bangsa dan negaranya.

Lalu, bagaimana wajah generasi muda Indonesia hari ini?

Apakah kita akan memungkiri data dari Badan Narkotika Nasional bahwa Indonesia darurat narkoba? Apakah kita akan menolak hasil beberapa riset yang menyatakan bahwa gaya hidup free-sex telah merata di kalangan generasi muda? Apakah kita akan pura-pura tidak tahu bahwa di sekitar kita terjadi dekadensi moral yang sangat serius?

Kita harus jujur bahwa hari ini ada masalah serius di dalam jati diri kita sebagai bangsa. Perubahan perilaku dan gaya hidup seolah telah merasuki alam bawah sadar kita. Sehingga terus terjadi dan menjadi lazim.  

Di sisi lain, pemerintahan di Negara ini seolah tidak memiliki kedaulatan atas kekuasaannya. Karena lemah di hadapan kartel. Lemah di hadapan pemilik modal. Harus membagi kekuasaan dengan partai politik. Bupati atau walikota belum tentu selaras dengan Gubernur. Begitu pula Gubernur belum tentu seirama dengan Presiden. Ibarat sebuah lukisan; Eksekutif punya warna sendiri. Legislatif punya warna sendiri. Pusat punya warna sendiri, dan daerah punya warna sendiri. Hasilnya abstrak.

Begitu pula terhadap dunia internasional. Kita tandatangani banyak kesepakatan internasional. Meskipun melemahkan posisi dan saya saing Indonesia.

Apa sebenarnya yang terjadi hari ini?

Bagi saya; Inilah kado pahit Reformasi 98 yang tidak dikawal oleh pencetusnya. Tidak dikawal oleh aktivis mahasiswa yang mencetuskannya.

Reformasi 98 akhirnya hanya menjadi semangat anti-thesa terhadap Orde Baru. Apapun yang berlaku di Orde Baru diganti dengan sebaliknya. Puncaknya adalah Amandemen UUD 1945. Dalam kurun waktu tahun 1999 hingga 2002, konstitusi kita mengalami 4 kali perubahan.

Orang boleh mengatakan bahwa amandemen sebagai kebutuhan atas perubahan jaman. Atau agar konstitusi kita tidak multi-tafsir. Tetapi fakta tidak boleh kita pungkiri bahwa tidak sedikit kaum pemikir dan akademisi yang mengkritisi lahirnya banyak Undang-Undang yang merugikan kepentingan nasional kita sebagai bangsa akibat dari Amandemen konstitusi tersebut.

Belum lagi kebijakan otonomi daerah yang kerap menimbulkan konflik yang berkepanjangan sebagai dampak dari Pilkada. Ditambah dengan lemahnya kendali pemerintah pusat terhadap sektor-sektor strategis di daerah. Bukankah ini ancaman bagi Indonesia sebagai Negara Kesatuan?

Sekarang, dalam era Pilkada langsung, meminjam pikiran Pak SBY, orang “mampu” belum tentu terpilih sebagai pemimpin. Bisa jadi, orang yang tidak memiliki kemampuan memimpin, tetapi karena “disukai” dia akan terpilih. Karena one man-one vote. Suara seorang profesor sama nilainya di dalam bilik suara pemilu dengan suara seorang yang hanya lulusan SMP, misalnya.

Di gedung DPR kita bisa melihat bagaimana sebuah keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak ditentukan dengan voting.

Itulah mengapa Pemuda Pancasila adalah salah satu organisasi yang mengkritisi Amandemen UUD 1945.

Kita harus jujur bahwa Sila ke-4 Pancasila yang berbunyi; “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan”, sudah menjadi tanda tanya dalam impelementasinya di tengah keputusan kita menggunakan one man-one vote dalam sistem tata Negara kita.

Kita harus juga jujur bahwa Sila ke-5 Pancasila yang berbunyi; Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, menjadi sebuah harapan yang semakin jauh di tengah kenyataan ketimpangan pemerataan di masyarakat.

Begitu pula dengan Sila ke-2 dan ke-3, silakan dikaji sendiri, di tengah ego sektoral dan ego kelompok yang menguat. Mungkin hanya Sila ke-1 yang masih bisa kita rasakan implementasinya, karena Negara ini memang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sehingga tidak ada pintu bagi Komunisme untuk hidup di Indonesia.

***

LANTAS bagaimana generasi muda menyikapi situasi ini? 

Bagi saya sederhana. Harus tetap berpikir kritis dan berorganisasi.

Pemuda adalah orang yang siap tidak berada di zona-nyaman. Tidak seperti generasi tua yang cenderung mempertahankan apa yang sudah dinikmati.  Sehingga kehilangan nalar kritisnya.

Pemuda wajib kritis. Termasuk dalam memotret masa depan NKRI. Apakah pondasi kita semakin kokoh sebagai sebuah bangsa? Atau semakin lemah?

Pemuda harus berorganisasi untuk menemukan wadah sebagai tempat menguji dan menyampaikan pikiran-pikiran kritisnya.

Sekian dan terima kasih. []

Bagikan artikel ini: