Pemerintah ingin ada 100 ribu homestay di desa wisata

Jum'at, 19 Mei 2017 | 08:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah bakal merintis program Homestay Desa Wisata sebagai andalan industri baru dalam pengembangan amenitas pariwisata. Pemerintah berambisi menjadi Indonesia sebagai negara dengan homestay terbesar, terbanyak, dan terbaik dunia.

Itulah mimpi besar Menteri Pariwisata Arief Yahya dari Rapat Koordinasi Pariwisata II/2017 yang bakal digelar di Birawa Assembly Hall Hotel Bidakara Jakarta Selatan, pada 18-19 Mei 2017.

Target jumlah homestay baru pada 2019, menurut dia, adalah 100.000. Tersebar di seluruh Indonesia, minimal di 10 Bali Baru, atau 10 Destinasi Prioritas yang sudah diputuskan oleh Presiden Joko Widodo. Sebarannya antara lain di Danau Toba Sumut, Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu Jakarta, Borobudur Jawa Tengah, Bromo Jawa Timur, Mandalika Lombok, Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sultra dan Morotai Maltara.

Tahun ini ditargetkan 20.000, tahun 2018 ditambah 30.000, dan 2019 dibangun 50.000 yang bakal mencapai 100.000 pada 2019. :Homestay itu dikelola secara korporasi, bukan cara koperasi. Homestay ini dijalankan dengan mesin baru, model bisnis baru, berbasis pada digital yanh saya sebut digital sharing economy," kata Arief Yahya di Jakarta, Kamis, 18 Mei 2017.

Program homestay desa wisata yang dilaksanakan mulai tahun ini. Program tersebut merupakan kontribusi Kemenpar terhadap Program Sejuta Rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Pembangunan homestay mempunyai nilai strategis. Terutama untuk memperkuat unsur Amenitas dalam teori 3A, yakni atraksi, amenitas, dan aksesibilitas. kbc10

Bagikan artikel ini: