Geluti bisnis RPK, pensiunan ini peroleh laba 40%

Selasa, 23 Mei 2017 | 20:41 WIB ET

SEMARANG, kabarbisnis.com: Jangan anggap remeh usaha kelontong berbasis pangan. Rapi Indriastuti, pensiunan dari salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini meraup laba 40% dengan bergabung menjadi sahabat Rumah Pangan Kita (RPK).

Padahal usaha yang dijalankan Rapi baru terhitung dengan enam bulan. Dengan modal cukup Rp 5 juta, Rini memperoleh sejumlah produk beras, gula dan minyak goreng dari Bulog.Tidak perlu kios atau toko khusus untuk memulainya.

Rapi yang beralamatkan Jalan Wonosari ,Krajen No 31, Semarang ini menjadikan teras rumahnya yang kira kira hanya seluas 2 x 3 disulap menjadi tempat dagangannya. Bagi Rapi, pensiun bukan akhir segalanya.

Menjadi sahabat RPK juga tidak rumit seperti awal ia bayangkan.Setelah diverifikasi bahwa lokasinya layak menjalani usaha bahan pokok, Rapi memperoleh spanduk RPK yang diiikat dipagar rumahnya.

Harga beras medium Rp 9.500/kg atau Rp 47.500/5 kg, beras premium Rp 10.300/kg atau Rp 51.500/5 kg, gula Rp 12.500/kg dan minyak goreng Rp 11.000/kg. "Paling banyak dicari beras dan minyak goreng, Lumayan buat bantu keperluan rumah tangga," tuturnya.

Dalam perjalanannya, usaha yang baru dirintis Rapi satu bulan jelang pensiun ini terus berkembang. Awalnya, ia hanya melakukan satu kali transaksi Rp 5 juta/bulan.

Namun, kini menjadi tiga kali transaksi /bulan dengan potensi perolehan laba sekitar  40 persen. "Dalam satu bulan, laba yang saya peroleh lebih dari Rp 2 jutaan. Dan, sebenarnya kita tidak mengeluarkan modal," terangnya.

Karena,menurut Rapi , Bulog berkepentingan agar mitra menjalankan usahanya berkelanjutan.Pola insentif yang diberikan dengan menerapkan konsinyasi.

Artinya, Rapi hanya membayar produk pangan yang terjual. Bulog juga memberikan tenggat bayar dua hari kedepan,meski produk  sampai terlebih dahulu dirumah.

Meski begitu, Rapi tidak berdiam diri begitu saja.Setiap pekan , Rapi rutin menjajakan produk pangan RPK ini dalam mobil usai misa kebaktian di gerejanya. Tidak sedikitpun merasa sungkan memperkenalkan bahan pangan pokok kepada jemaatnya.

"Konsumen berpikirnya sederhana saja,bagaimana memperoleh harga bahan pangan relatif murah dengan mudah. Kalau kita tidak rajin mengenalkannya,  masyarakat tidak tahu ada produk pangan murah tapi tetap menjaga mutu," ujarnya.

Hingga Bank Negara Indonesia (Tbk) dan Kementerian Sosial mendatangi kediamannya. Singkat kata, Rapi diminta turut menjadi 'agen' beras rakyat sejahtera (rasta) melalui program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Rapi memperoleh alokasi jatah rasta untuk melayani 268 kepala keluarga. Mekanismenya, setiap penerima manfaat memperoleh 20 kg beras dan 4 kg gula atau setara Rp 220.000 untuk kebutuhan dua bulan.

Namun untuk menebusnya, mereka harus memiliki kartu identitas diri sekaligus kartu debit.Untuk keperluan itu diakui, ia harus menyiapkan gudang tersendiri untuk menyimpan bahan pangan.

"Untuk paket Bantuan Pangan Non Tunai ini saya menyalurkan melalui kecamatan, karena pemberinya dilakukan di kecamatan setelah itu didistribusikan ke kelurahan," pungkasnya.

Manajemen Perum Bulog menargetkan membangun jaringan distribusi melalui RPK hingga 100.000 sampai 2019 mendatang. Adapun hingga kini, upaya pemerintah memangkas mata rantai distribusi pangan ‎sudah sebesar 18.000 RPK.kbc11

Bagikan artikel ini: