Musim kenaikan harga pangan sambut Ramadan dan Lebaran

Minggu, 04 Juni 2017 | 15:21 WIB ET

SETIAP memasuki bulan Ramadan dan Lebaran, hampir bisa dipastikan harga komoditas pangan merayap naik. Pola kenaikan harga pangan ini selalu berulang terjadi setiap tahunnya dan menyasar hampir seluruh bahan pangan strategis yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari. Harga sejumlah komoditas pangan ini akan semakin melambung tinggi ketika mendekati Lebaran.

 

Tradisi melejitnya harga pangan di bulan Ramadhan berawal dari alasan bahwa adanya peningkatan permintaan pada saat Ramadan hingga 25% sehingga membuat para pemasok dan  pedagang turut menaikkan harga. Sebagaimana dengan teori hukum pasar, bahwa ketika ada peningkatan dari sisi permintaan dengan pasokan memadai maka harga pun akan melejit tinggi.

Beragam alasan untuk 'melegalkan' fenomena kenaikan harga pangan ini, mulai biaya distribusi yang juga ikut naik, kelangkaan stok di daerah produksi, dan sebagainya.

Fluktuasi harga pangan ini terjadi di hampir di semua jenis komoditas pangan seperti beras, bawang putih, bawang merah, daging ayam dan sapi, telur ayam, sayuran, dan bahkan buah-buahan mengalami lonjakan yang cukup tinggi.

Untungnya pemerintah telah mengantisipasi kondisi ini dengan menelorkan kebijakan satu harga untuk tiga produk pangan, yakni gula, minyak goreng, dan daging beku. Harga seragam ini berlaku di tingkat pasar tradisional maupun ritel modern. Upaya ini dilakukan agar harga stabil dan tak lagi ada kejadian harga turun-naik.

Namun demikian, gejolak harga juga masih terjadi di beberapa komoditas pangan, seperti bawang putih, telur ayam, dan komoditas sayuran.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengklaim bahwa ketersediaan bahan pokok khususnya beras, bawang merah, cabai, dan daging menjelang Hari Raya Idul Fitri dinyatakan aman dan harganya sudah turun.

"Stok sekarang Alhamdulillah untuk beras ada 1,9 juta ton cukup untuk 8 bulan ke depan. Ini baru panen 2 bulan 3 minggu (lalu) tapi stok kita cukup untuk 8 bulan ke depan. Bawang harga cenderung turun, stok kita cukup," jelas Amran.

Amran mengaku saat ini ia sudah bekerja sama dengan Bulog untuk mengatasi kenaikan harga pangan menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri nanti. "Insyaallah kita sepakati dengan Bulog. Ini persiapan manakala harga bergerak naik, kita bergerak lebih awal," kata Amran.

Tak hanya itu, pemerintah melalui Menteri Perdagangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 20 Tahun 2017 tentang Pendaftaran Pelaku Usaha Distribusi Barang Kebutuhan Pokok. Selain itu ada pula kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan satgas pangan.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pangan yang bertujuan untuk menindak para penimbun dan kartel harga yang dilakukan para pengusaha nakal. Apalagi upaya pedagang nakal itu selalu muncul menjelang Ramadan dan Lebaran.

Bagi para spekulan, distributor dan tengkulak yang mencoba melakukan penimbunan stok pangan untuk dimainkan harganya, pemerintah telah bertekad untuk melakukan tindakan tegas, mulai dari penyegelan, penyitaan hingga membawa kasus itu ke ranah hukum untuk efek jera.

Namun demikian, konsistensi dan penegakan hukum terhadap pelaku harus benar-benar dilakukan pemerintah, bukan hanya sesaat menjelang dan memasuki Ramadan dan Lebaran saja. Oleh karenanya, harga acuan untuk komoditas pangan ini juga harus tetap dilakukan, dan seyogyanya pemerintah juga mendelegasikan kepada pemerintah di daerah untuk ikut mematuhi. Dengan demikian, instabilitas harga diharapkan dapat dikendalikan di seluruh daerah di Tanah Air. (didik sutrisno)

Bagikan artikel ini: