Genjot pasar ekspor, INKA cari lahan bangun pabrik baru

Senin, 05 Juni 2017 | 04:17 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Besar permintaan serta potensi pasar ekspor mendasari BUMN produsen kereta api, PT Industri Kereta Api (INKA) berencana membangun pabrik baru di tahun depan.

Direktur SDM dan Keuangan INKA, Mohamad Nur Sodiq mengatakan, saat ini pihaknya masih mencari lokasi yang pas untuk pabrik baru. Pabrik kereta dan lokomotif baru harus berada di dekat pelabuhan dan jaringan rel kereta api.

"Pabrik kedua kita masih cari beberapa lokasi yang pas, yang pasti di Jawa Timur, seperti di Banyuwangi. Syaratnya harus luas untuk produksi kami, juga harus dekat dengan pelabuhan dan punya jaringan kereta," kata Sodiq di Jakarta, akhir pekan lalu.

Meski belum mantap soal lahan, dirinya memastikan pabrik baru harus sudah dibangun tahun depan. INKA sendiri sudah menyiapkan dana sebesar Rp 600 miliar untuk pembangunan pusat produksi kedua setelah Madiun.

"Secepatnya kita pastikan cari lahannya. Dananya dari PMN (Penyertaan Modal Negara) sebesar Rp 600 miliar, kita dapat PMN kan Rp 1 triliun yang cair Desember lalu. Karena dari PMN, jadi harus segera groundbreaking," tandas Sodiq.

Diungkapkannya, pembangunan pabrik baru sudah sangat mendesak, apalagi setelah INKA kebanjiran order kereta, baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan pabrik baru, kapasitas produksi bisa ditingkatkan lagi dari saat ini mengandalkan pabrik di Madiun sebanyak 400 unit trainset per tahun, menjadi 700 unit per tahun.

"Kapasitas produksi per tahun kita yang dari Madiun ini 400 kereta setahun. Dengan adanya pabrik baru harapannya dinaikkan jadi 700 kereta per tahun. Kita juga bisa leluasa untuk ekspor. Dan pasar dalam negeri sedemikian besar, dukungan pemerintah ke infrastruktur kereta api. Tahun lalu saja growth penjualan kita 40%," terang Sodiq.

Sementara itu, Direktur Utama INKA, Agus Purnomo, mengungkapkan pabrik kedua memang difokuskan untuk menyerap pasar luar negeri. Beberapa negara di Afrika sudah menyatakan minatnya membeli kereta buatan INKA, terlebih harganya yang bisa dikatakan lebih murah dari kereta buatan Eropa, bahkan China.

"Mudah-mudahan Insya Allah bisa bersaing. Tahun lalu total penjualan kita tahun ini US$ 150 juta, tahun lalu US$ 100 juta. Dengan pabrik baru, ekspor bisa lebih mudah, karena (pabrik) Madiun ini jauh dari pelabuhan, sekali ongkos angkut kereta mahal, bisa Rp 60 juta," ucap Agus. kbc10

Bagikan artikel ini: