Pasar melemah, ini solusi inovatif Holcim

Selasa, 01 Agustus 2017 | 16:58 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kondisi pasar yang dinamis dan lebih besarnya pasokan ketimbang permintaan rupanya berdampak pada kinerja PT Holcim Indonesia Tbk. Perlambatan akitvitas konstruksi, terutama saat Ramadan pada kuartal kedua ikut menjadi penyebab penurunan penjualan perseroan hingga 10 persen.

Sepanjang semester pertama tahun 2017, Holcim Indonesia mencatat penurunan penjualan 10 persen menjadi Rp 4.288 miliar. Namun perusahaan mencapai penurunan biaya hingga 2 persen sebagai keberhasilan melaksanakan program efisiensi. Selain melaksanakan efisiensi, berbagai inisiatif untuk memperkuat penjualan, menghemat biaya, dan mempertahankan posisi dengan teknologi serta memperkaya portfolio dengan produk dan solusi inovatif terus dilakukan.

“Dengan mengantisipasi kebutuhan pelanggan, Holcim memberikan nilai tambah melalui solusi inovatif. Tujuan utama kami adalah menciptakan nilai tambah untuk jangka panjang. Kami memiliki banyak hal untuk ditawarkan selain bahan bangunan. Kami memiliki solusi, keahlian, dan pengalaman untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang beragam,” ujar Gary Schutz, CEO Holcim Indonesia melalui keterangan tertulisnya, Selasa (1/8/2017).

Salah satu strategi Holcim, lanjut dia, yakni dengan menawarkan produk dan solusi inovatif untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang beragam. Selain sebagai mitra dalam revitalisasi fasilitas publik, seperti jalur pejalan kaki di Jakarta, Holcim dipercaya mendukung peremajaan kompleks olahraga nasional, Gelora Bung Karno, sebagai bagian dari persiapan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Holcim menyediakan ThruCrete dan ColorCrete untuk proyek ini yang telah terbukti mengungguli pesaing melalui uji produk dalam hal kualitas dan proses aplikasi.

"Komitmen Holcim untuk inovasi dan memberikan nilai tambah tidak berhenti pada produk saja. Perusahaan mengadakan peletakan batu pertama dan penandatanganan nota kesepahaman untuk fasilitas pengelolaan limbah perkotaan (municipal solid waste) sebagai pengganti bahan bakar turunan (refuse derived fuel) yang berlokasi di Cilacap, Jawa Tengah, pada 26 Juli 2017," pungkasnya.

Sekadar diketahui, Asosiasi Perusahaan Semen Indonesia menyatakan konsumsi semen nasional tercatat hanya mencapai 29 juta ton pada semester pertama tahun ini, turun 1,2 persen dari periode yang sama tahun lalu. Perlambatan penyerapan dari sektor perumahan dianggap sebagai penyebab selain libur panjang yang menunda proyek-proyek pembangunan pada periode enam bulan pertama tahun ini. Semester kedua diproyeksikan akan terjadi peningkatan seiring dengan kembali aktifnya kegiatan konstruksi dan sentimen positif terhadap estimasi proyek-proyek yang dilakukan pemerintah ataupun swasta. kbc7

Bagikan artikel ini: