Tekuni ilustrasi digital, putri bos CitraLand Surabaya ini ingin majukan Indonesia

Jum'at, 04 Agustus 2017 | 09:37 WIB ET

LAHIR sebagai anak dari keluarga berkecukupan tak membuat Dionesia Nadya Dewayani terlena. Putri kedua Direktur PT Ciputra Development Tbk --pengembang perumahan elit CitraLand Surabaya-- Sutoto Yakobus ini justru gigih belajar dan berkeinginan bisa menciptakan sebuah karya yang berguna untuk negeri ini, sekaligus memajukan Indonesia.

Baginya, sebagai anak muda pantang untuk berpangku tangan. Bakatnya dalam bidang seni menggambar kian terasah ketika menimba ilmu di Savannah College of Art and Design (SCAD) di Amerika Serikat dan Hong Kong. Dengan memilih studi di Ilustrasi (mayor) dan fibers (minor), gadis 22 tahun ini mampu menyelesaikan pendidikannya selama 4 tahun dengan nilai sempurna (summa cum laude).

Selama kuliah, penyandang gelar bachelor of fine arts (BFA) dari SCAD ini memang aktif mengikuti program kampus. Sebut saja SCAD Illustration Expo pada 2016, SCAD Anthology, Art Direction’s Day, dan lain-lain.

Salah satu prestasinya adalah saat mengikuti program Collaborative Learning Center (CLC) yang diadakan kampus. CLC diadakan selama sepuluh hari mulai akhir Maret hingga Juni. Pada program itu, kampus bekerja sama dengan berbagai perusahaan besar di bidang industri kreatif. Ketika itu, CLC menggandeng salah satu perusahaan besar AS, Lowe’s. Para murid yang terpilih diberi kesempatan untuk menyelesaikan proyek membuat komik bagi perusahaan tersebut.

Di antara seluruh siswa yang mendaftar dari berbagai fakultas, terpilih sekitar 15 orang. Termasuk Nadya yang memperoleh mandat membuat ilustrasi komik profil perusahaan yang berjudul Lowe’s Vision Pro. ”Yang bikin susah, perusahaan besar pasti banyak maunya. Sangat detail. Aku dan teman-teman benar-benar harus bisa ngeladeni dan nuruti selera mereka. Termasuk konsep, karakter komik, dan lain-lain,” jelas Nadya.

Selain itu, proyek besar lain yang digarap Nadya adalah membuat buku cerita anak berjudul Woofy Woo Woo. Buku tersebut ditulis Louise Elisabeth Robertson. Dia merupakan penulis asal Inggris yang tinggal di AS. Buku berisi cerita fiktif tentang anjing yang gemar melukis. Buku tersebut memenangkan penghargaan kategori Children’s Picture Book: Soft Cover Edition pada The 9th Annual International Book Awards 2017 di Los Angeles.

Kenyang menima ilmu dan berkarya di luar negeri, Nadya ingin kembali ke Tanah Air dan berkarya di negeri sendiri. Banyak pelajaran yang didapat di luar negeri, termasuk perkembangan dunia ilustrasi dan desain. "Di negara lain khususnya yang sudah maju, peran ilustrator sangat penting, dan mereka rata-rata menghasilkan karya yang menonjolkan budaya atau ciri khas negaranya. Makanya, saya ingin berbuat itu di sini," kata Nadya.

Diakuinya, potensi ilustrator dan desainer di Indonesia masih cukup luas dan menjanjikan. Sayangnya, mereka belum banyak mendapat wadah. ”Namun untuk membuat orang lain terkesima, seniman nggak boleh aras-arasen menggarap karya,” tukasnya.

Oleh karenanya, melalui pameran tunggal yang digelarnya di mal Ciputra World Surabaya pada 3-6 Agustus 2017 yang bertemakan Illustration and Design Exhibition ini, Nadya ingin memperlihatkan karya-karyanya, dan tentunya mempopulerkan industri kratif di bidang ilustrasi digital tersebut agar kian dikenal. Ada beberapa bentuk yang di- display, di antaranya, poster, video animasi, dan motif kain. Ada juga tas, pakaian, gelas, piring, hingga kemasan.

"Ciri khas desain aku itu kombinasi antara manual dan digital, jadi goresannya lebih ke manual, pewarnaan dan finishing-nya digital, itu yang bikin beda," jelas Nadya yang juga mempopulerkan karyanya di dnd-design.com dan di akun Instagram @dionesianadya.

Di pameran itu juga terlihat sebuah ransel yang dibuat dari kain kanvas. Kain diprint dengan motif garuda buatan Nadya. Desain tersebut dinamai Independence Day. Sebenarnya dia mendesain motif itu untuk memenuhi tugas sekolah. ”Kenapa garuda? Sebagai orang Indonesia, aku pengin menunjukkan jati diri. Supaya desainku nggak mainstream dan kebaratbaratan,” jelasnya.

Meski terbilang baru, Nadya menyebut saat ini sudah ada beberapa lembaga dan perusahaan yang sudah mengajaknya bekerja sama serta memesan hasil karyanya, mulai untuk souvenir, logo perusahaan, desain kemasan produk, hingga iklan.

"Ya lumayan sudah ada permintaan. Makanya saya ingin memperkenalkan hal baru dalam desain dan tampilan kemasan produk atau souvenir," ulas Nadya.

Dengan hasil positif ini, ke depan, Nadya ingin membuka usahanya sendiri di bidang industri kreatif. Bukan hanya menjadi desainer, dia juga ingin terjun langsung di bidang produksi. ”Saya bisa saja ngerjain produksi sendiri atau jual desain ke perusahaan lain,” pungkasnya. kbc7

Bagikan artikel ini: