Ini kunci sukses hadapi bonus demografi

Senin, 07 Agustus 2017 | 06:22 WIB ET

BOGOR, kabarbisnis.com: Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Wirianingsih mengatakan pembangunan yang pro-keluarga merupakan kunci sukses memanfaatkan bonus demografi di era generasi digital.

"Kita perlu mencermati beberapa tantangan yang membutuhkan antisipasi serius menuju keunggulan SDM pada saat-saat puncak bonus demografi pada 2028-2031," kata Wirianingsih dalam acara Memaknai Hari Keluarga Nasional dan Hari Anak Nasional bertema Generasi Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPP PKS di Kabupaten Bogor, Minggu.

Bonus demografi adalah kondisi di mana jumlah usia angkatan kerja dengan usia 15-64 tahun mencapai 70 persen sedangkan 30 persen penduduk lainnya berusia tidak produktif yaitu usia 14 tahun ke bawah dan di atas 65 tahun.

Menurut Wirianingsih, bonus demografi yang sebetulnya sudah berlangsung secara bertahap sejak tahun 2012 hingga tahun 2035, akan mencapai puncaknya tahun 2028-2031.

Pada tahun tersebut diperkirakan jumlah penduduk usia produktif sebanyak 180 juta orang dan yang berusia non-produktif sebanyak 60 juta orang. 

"Dalam waktu yang kurang dari satu dasawarsa kita harus menyiapkan agar momentum bonus demografi ini menjadi berkah bagi Indonesia, ketika penduduk yang berusia produktif itu memiliki kualitas yang unggul," katanya dalam keterangan tertulisnya, seperti dikutip Antara.

Untuk itu, kata dia, Indonesia perlu memperhatikan kalitas SDM karena kondisi SDM belum memiliki kekuatan daya saing yang memadai. Berdasarkan tingkat pendidikan, 70 persen SDM Indonesia baru memiliki jenjang pendidikan dasar, yang memiliki pendidikan menengah sebanyak 22,40 persen dan yang berpendidikan perguruan tinggi sebanyak 7,20 persen.

Padahal Malaysia, katanya, tenaga kerjanya memiliki tingkat pendidikan menengah sebesar 56,30 persen, pendidikan dasar 24,30 persen dan 20,30 persen pendidikan tinggi.

Selain itu, katanya, perlu dicermati fenomena Generasi Digital Native. Hal lain yang mempegaruhi kualitas SDM bangsa adalah kekhasan anak-anak kita sebagai generasi digital native. Generasi yang lahir di era digital, era dunia yang "terkompresi" dalam sebuah gawai (gadget) dan nyaris terhubung sepanjang waktu. 

"Jarak geografis dan perbedaan jam bukan lagi menjadi kendala komunikasi dan interaksi segenap warga planet bumi. Generasi digital native yang kerap dijuluki sebagai generasi beta memiliki kekhasan yang cukup signifikan perbedaannya dengan generasi sebelumnya," katanya.

Bagikan artikel ini: