Santripreneur, cara baru geliatkan IKM

Selasa, 08 Agustus 2017 | 04:02 WIB ET

Jakarta, kabarbisnis.com: Kementerian Perindustrian (Kemperin) semakin gencar menciptakan wirausaha baru di lingkungan pondok pesantren melalui program santripreneur. Upaya ini dimaksudkan agar lulusan pesantren dapat mendorong industri kecil dan menengah (IKM).

“Setiap tahunnya kami melaksanakan berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat khususnya pengembangan IKM di lembaga pendidikan keagamaan termasuk pondok pesantren,” kata Dirjen IKM Kemperin Gati Wibawaningsih ketika melakukan kunjungan kerja di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur, Senin (7/8).

Selama tahun 2013-2015, Ditjen IKM telah membina lima pondok pesantren di empat wilayah, yakni Kabupaten Kebumen, Garut, Tasikmalaya, dan Pacitan. Jumlah total peserta sebanyak 105 santri yang mendapatkan pelatihan di bidang konveksi dan kerajinan batu akik.

Gati menyampaikan, Pondok Pesantren Sunan Drajat merupakan salah satu lokasi pilot project yang dilaksanakan Kemperin dalam menjalankan program santripreneur pada tahun 2017.

Berdasarkan data Kementerian Agama, pada tahun 2014, pondok pesantren yang ada di Indonesia sebanyak 27.290 lembaga dengan jumlah santri mencapai 3,65 juta orang. Sementara jumlah santri di Pondok Pesantren Sunan Drajat sebanyak 12.000 orang dengan tenaga pendidik 1.041 orang. “Kami sedang menjajaki kerja sama dengan Bank Indonesia wilayah Jawa Timur, yang nantinya dituangkan ke dalam Perjanjian Kerja Sama terkait skema pilot project santripreneur tahun 2017,” ungkapnya.

Menurut Gati, Bank Indonesia wilayah Jawa Timur telah memiliki program Inkubator Bisnis Pesantren dan berkomitmen akan membentuk Baitul Mal Wattamwil (BMT).

Kemperin mencatat, jumlah IKM tumbuh mencapai 165.983 unit pada tahun 2016 atau meningkat 4,5 persen dibandingkan tahun 2015. Sementara pada 2017, jumlah IKM ditargetkan mencapai 182.000 unit dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 400.000 orang.

Dengan berbagai program strategis tersebut, Kemenperin akan mendorong penumbuhan wirausaha baru sebanyak 5.000 unit dan pengembangan 1.200 sentra IKM pada 2017. Pada 2019, ditargetkan akan mencapai 20.000 wirausaha baru.

Di samping itu, IKM terus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri yang cukup signifikan setiap tahun. Ini terlihat dari capaian pada 2016 sebesar Rp 520 triliun atau meningkat 18,3 persen dibandingkan pada 2015. Sedangkan, nilai tambah IKM pada 2014 tahun sekitar Rp 373 triliun menjadi Rp 439 triliun pada 2015 atau naik 17,6 persen. kbc1

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: