Pemerintah berhemat, kinerja industri perhotelan tertekan

Selasa, 08 Agustus 2017 | 08:54 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pelaku industri perhotelan di Tanah Air merasakan menurunnya kinerja dalam beberapa tahun terakhir, menyusul keputusan pemerintah memangkas anggaran dan melakukan penghematan kembali menekan kinerja okupansi industri perhotelan.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan buruknya kinerja industri perhotelan sejak 2014 akibat kondisi ekonomi masih terus berlanjut. Sampai kuartal II/2017 lalu, tingkat hunian hotel di Jakarta hanya tercatat 57%.

"Kemarin permintaan turun karena bulan puasa dan Lebaran, tetapi hingga akhir tahun nanti kondisi akan sangat bergantung pada pertumbuhan bisnis dan ekonomi Indonesia,” katanya, Senin (7/8/2017).

Ferry menuturkan, dari tiga kota yang menjadi fokus kami Surabaya, Jakarta, dan Bali, hingga kuartal II/2017 lalu hampir tidak ada pasokan baru yang masuk. Hanya di Bali dengan kelas bintang 4 dan 5.

Untuk itu, saat ini total pasokan kamar Jakarta masih sama yakni 11.250 unit kamar hotel bintang tiga, 15.217 kamar bintang empat, dan 12.843 kamar bintang lima. Adapun, pada sisa dua kuartal di 2017, diperkirakan ada penambahan 2.692 kamar hotel di Jakarta.

Sementara di Surabaya akan ada tambahan 1.705 kamar hotel dari 10 proyek yang sedang dikerjakan. Adapun, pada 2018 – 2019 Surabaya kembali dibanjiri 1.825 kamar hotel dari 10 proyek lagi.

Sedikit berbeda dengan Bali, kinerja cukup menggembirakan dengan okupansi di atas 65% pada semester I/2017. Hal ini dipicu oleh kenaikan jumlah wisatawan dan sibuknya aktivitas MICE di Bali pada periode tersebut.

Dengan adanya tambahan 699 kamar pada kuartal II/2017, maka hingga saat ini pasokan kamar hotel di Bali mencapai 54.757 unit.

“Di Bali okupansi kamar justru meningkat terutama pada bulan April dan Mei karena banyaknya libur panjang di akhir pekan. Sehingga rata-rata tingkat hunian berada di atas tahun 2014 – 2016. kegiatan MICE di Bali juga dilakukan sebelum bulan puasa,” kata Ferry.

Sebelumnya, perusahaan konsultan hotel HVS merilis riset terbaru Asia Pacific Hotel Operator Guide 2017 merilis kinerja industri perhotelan Indonesia yang berhasil menempati posisi keempat setelah Australia, Thailand, dan China.

Peringkat ini diambil dari jumlah hotel dan kamar operasional yang tersebar di 25 negara dengan 1.171 hotel yang disurvei.

Managing Partner HVS Asia Pacific Daniel J. Voellm dalam publikasinya menuturkan pasar hotel di Indonesia terus berkembang terindikasi dari rencana pembangunan yang akan terus berlanjut pada masa depan. Di samping pertumbuhan jumlah hotel dan banyak kamar yang terus bertambah.

Selain di Indonesia, Voellm melanjutkan, Chna dan Malasysia juga mengalami hal serupa. Dari sepuluh besar negara yang memperkuat jaringan bisnis perhotelannya ketiga negara ini terus menunjukkan eksistensinya.

“Ke depan kami proyeksikan Indonesia dan Malaysia yang paling kuat pertumbuhannya, bersama dengan China tiga negara ini terus melakukan pergeseran peringkat yang aktif,” katanya. kbc10

Bagikan artikel ini: