Kadin Jatim-BKSP pastikan industri lebih aktif dalam penerapan pendidikan vokasi sistem ganda di SMK

Kamis, 10 Agustus 2017 | 08:47 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur bersama Badan Koordinasi Sertifikasi Profesi (BKSP) Jatim akan lebih gencar melakukan sosialisasi kepada pelaku dunia usaha dan dunia industri (DUDI) atas pentingnya penerapan pendidikan vokasi dual sistem atau sistem ganda di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Melalui langkah ini, Kadin Jatim dan BKSP Jatim memastikan kesadaran DUDI atas pentingnya campur tangan mereka terhadap keberhasilan pendidikan vokasi sistem ganda di sekolah kejuruan.

“Kadin itu tempatnya pelaku usaha dan industri. Amat mudah menyadarkan mereka atas pentingnya metode ini untuk diterapkan dalam sistem pendidikan di SMK. Karena yang akan merasakan kemanfaatannya juga pelaku usaha dan industri sendiri,” ujar Ketua Umum Kadin Jatim La Nyalla Mahmud Mattalitti usai pertemuan dengan Industrie-und Handelskammer (IHK) Kadin Hochrhein-Bodensee Jerman di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Rabu (9/8/2017).

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ketua BKSP Jatim, Adik Dwi Putranto bahwa sebenarnya DUDI sangat mendukung dalam pelaksanaannya. Hanya saja, karena sejauh ini sosjalisasi masih kurang, maka DUDI yang berperan aktif dalam pelaksanaan program ini masih terbatas. Dalam kurun waktu enam tahun, hanya ada enam SMK dan 6 industri yang mengikuti.

“Sampai akhir periode 2017 nanti, kami ingin ada banyak pelaku industri dan SMK yang ikut. Apalagi masih ada dua program lagi yang akan kami laksanakan hingga akhir 2017. Dalam waktu dekat, ada pelatihan Ausbildung der Ausbilder (ADA) di Kawasan Industri SIER Surabaya yang diikuti oleh 16 guru dari 16 SMK. Selain itu, juga akan ada pelatihan ADA kerjasama dengan Universitas Negeri Surabaya,” katanya.

Selanjutnya, pada 2018 hingga 2024 akan dilaksanakan program yang sama dengan penekanan pada pentingnya kesadaran DUDI untuk ikut berperan aktif dalam pelaksanaannya. Dan jika selama ini industri yang berperan aktif masih dari dua sektor industri andalan, yaitu Industri Logam, Mesin, Teknik, dan Aneka (ILMTA) dan Industri Alat Transportasi, Elektronika dan Telematima (IATT), maka pada periode selanjutnya akan dikembangkan pada industri agro. Hal ini dengan melihat besarnya kontribusi industri agro dalam pertumbuhan ekonomi Jatim.

Saat ini, ujar Adik, jumlah industri agro di Jatim mencapai 671.963 unit usaha dengan jumlah tenaga kerja yang bisa diserap mencapai 2.584.467 tenaga kerja. Nilai investasi di industri agro pun sangat besar, mencapai Rp 56,382 triliun dengan nilai produksi sebesar Rp 188,860 triliun.

“Target kami selama tiga tahun pertama, akan ada 30 SMK dan 30 industri yang akan ikut berperan aktif dalam pelaksanaan dan keberhasilan program ini,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Program IHK Trier, Andreas Gosche berharap DUDI lebih aktif lagi dalam pelaksanaan program ini. Tidak hanya dengan mengirimkan pelatih industri saja, tetapj juga ikut serta dalam pembahasan dan penentuan kurikulum yang akan dijadikan rujukan agar singkronisasi antara dunia pendidikan dan DUDI bisa terjalin. Dampak positif selanjutnya, DUDI tidak kesulitan lagi mencari tenaga kerja yang sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan.

“Ada tiga poin penting dalam keberhasilan paksanaan program vokasi sistem ganda ini, pertama pelaku harus profesional, baik pelaku industri ataupun pelaku pendidikan. Kedua kurikulum harus diselaraskan dengan kebutuhan industri dan ke tiga harus ada hubungan dan wadah dimana kedua pihak, dunia pendidikan dan DUDI bisa bertemu, dalam hal ini di Jatim sudah dibentuk Pokmi atau Kelompok Mitra yang selalu bertemu untuk menyelaraskan langkah,” ujarnya.kbc6

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: