Harga melambung, diduga garam oplosan marak terjadi

Jum'at, 11 Agustus 2017 | 08:22 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Melambungnya harga garam konsumsi dalam beberapa bulan terakhir rupanya dimanfaatkan sejumlah pihak untuk mengeruk keuntungan berlipat. Salah satunya adalah modus oplos mengoplos terhadap komoditas garam.

Seperti yang terjadi di Lamongan, Jawa Timur baru-baru ini, dimana terkuak adanya garam konsumsi yang dioplos dengan kristal yang diduga pecahan kaca dan bentuknya lebih besar dan lebih bening dari garam asli.

Butiran berupa kristal bening yang diduga sengaja dicampur dengan garam asli. Itu kemungkinan oleh produsennya untuk menambah berat timbangan.

Garam yang dioplos dengan kaca itu ditemukan di Desa Takerharjo, Kecamatan Solokuro. Kutiah, warga Takerharjo yang kali pertama melihat dan curiga karena garam itu  keras "Saya gerus kok garamnya tidak hancur," katanya, beberapa waktu lalu.

Hal serupa dialami para ibu rumah tangga desa di Solokuro dan Kanggenan. Secara fisik butiran bak batu lintang itu tidak bisa larut saat di rendam dengan air.

Terkait maraknya kabar garam yang dioplos kaca dan beredar di pasaran, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lamongan bersama sejumlah pihak terkait melakukan pengawasan ke sejumlah pasar.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Muhammad Zamroni mengatakan, pihaknya tidak menemukan adanya garam yang bercampur tawas atau semacam kristal di Lamongan, setelah melakukan uji laboratorium dan tes langsung, dengan memasukan garam yang dicampur dengan air.

“Pasca ada laporan kami bersama pihak lain langsung turun ke sejumlah tempat yang dicurigai menjadi lokasi beredarnya garam bercampur tawas itu, dan hasilnya negatif setelah dilakukan pengetesan dan uji laboratorium,” akunya.

Tempat yang ia datangi bersama tim lanjut Zamroni di Desa Takerharjo, Kecamatan Solokuro Lamongan, juga melakukan pengawasan dan uji laboratorium di pasar Cindere, Kecamatan Karanggeneng. “Ya, kami memang langsung ke lokasi untuk melakukan uji lab bersama UPT Perlindungan konsumen dari Bojonegoro dan juga dari Dinas Kesehatan Lamongan,” katanya.

Selain dilakukan pengawasan dan uji lab, kata Zamroni, pihaknya juga melakukan tes langsung dengan memasukan garam ke dalam air dengan menggunakan gelas untuk kemudian diaduk.

“Setelah diaduk rata ternyata hasil yang diperoleh garam tersebut terlarut secara menyeluruh tanpa meninggalkan sisa yang tidak terlarut sehingga disimpulkan tidak ada unsur tawas atau kaca pada garam tersebut,” jelasnya.

Hasil yang sama, lanjut Zamroni, juga ditemui ketiga petugas gabungan melakukan pengawasan dan uji lab dan uji coba langsung terhadap garam kemasan yang diduga mengandung tawas tersebut, dengan disaksikan oleh pedagang, konsumen dan staf serta kepala desa di lokasi pasar.

“Jadi tidak ada unsur tawas pada garam tersebut, apalagi unsur kaca. Tidak ada sama sekali itu itu hanya mirip kristal, karena garamnya agak keras,” bebernya.

Untuk itu, Zamroni meminta kepada masyarakat untuk tidak perlu khawatir terhadap isu garam yang diduga bercampur tawas ataupun kaca tersebut. Pasalnya, semua unsur tersebut tidak ditemukan setelah dilakukan uji lab dan uji coba di lapangan. kbc10

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: