Areal sawah terkena serangan hama wereng meroket, ini sebabnya

Selasa, 15 Agustus 2017 | 23:35 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian mencatat hingga pertengahan Agustus 2017 ini,sekitar 67.749 hektare (ha) areal persawahan padi terkena organisme penyakit tumbuhan (OPT) yakni hama wereng coiklat.

Sesditjen Tanaman Pangan Maman Suherman menuturkan Kementan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah untuk mengontrol pengendalian hama sehingga tidak semakin meluas. “Serangan hama wereng coklat terbesar terjadi di Jawa,seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah. Diluar itu, bersifat spot di Lampung, Bali dan Sulawesi Selatan,” ujar Maman kepada pers usai pengukuhan Dewan Pengurus Pusat Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia(MPPI) 2017- 2022 di Jakarta, Selasa (15/8/2017).

Sebagai informasi saja,MPPI merupakan organisasi profesi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan dari birokrat, pelaku usahawan hingga akademisi dibidang perbenihan nasional. Untuk periode 2017-2022, forum memilih Ketua MPPI Herman Khaeron.

Sementara Maman didapuk sebagai Sekjen MPPI ini mengklaim sebanyak tiga kali luas areal pertanaman padi dibandingkan yang terdampak atau setara 150.000 ha sudah ditanggulanggi. Menurutnya, setiap tanaman padi terdapat hama werengnya, tapi resiko itu dapat diminimalisir  melalui penggunaan teknologi sederhana misalnya pengapuran lahan . “Taburkan kapur satu ton per hektare. Untuk membunuh virus dalam tanah,” kata Maman.

Maman mengakui areal sawah yang terkena serangan OPT tahun 2017 ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 39.000 ha. Begitupula sawah yang terkena puso pun mejadi 1.800an ha, meningkat dibandingkan tahun lalu sebesar 800 an ha.  

Ada sejumlah hal yang menyebabkan serangan hama pada tahun 2017 ini lebih tinggi, yakni penggunaan varietas benih padi yang rentan terkena serangan hama  wereng  coklat .  Misalnya petani lebih menyukai menanam benih padi varietas Ciherang dan beras ketan yang rentan terkena serangan hama.

Selain itu, lambannya pengamatan petugas lapang sehingga pembuatan laporan pun terlambat dan begitupula penanganannya .Di sejumlah daerah, kondisi tanah memiliki  yang tingkat kemasaman yang tinggi. Karenanya dibutuhkan dinetralisir.

“Kita membuat lokasi percontohan, selain melalui pengapuran, kita gunakan varietas Inpari 33 yang tahan hama wereng coklat dan penggunaan pupuk organik.Daya tahan tanaman akan semakin kuat. Kita kembangkan budidaya pertanian sehat,” terang dia.

Akibat gangguan OPT tersebut, menurut Maman maka terdapat potensi kehilangan padi sebesar 60.000 ton gabah kering giling (GKG). Namun, angka tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan produksi padi tahun 2016 lalu sebsar 79,18 juta GKG.kbc11

Bagikan artikel ini: