Apa kabar proyek listrik 35.000 MW, Pak Jokowi?

Senin, 21 Agustus 2017 | 07:55 WIB ET

PELAKSANAAN program mega proyek ketenagalistrikan 35 gigawatt (35.000 megawatt) yang diusung Presiden Jokowi dinilai masih di bawah harapan. Realisasi pembangunan pembangkit listrik baru guna mendukung sistem kelistrikan nasional itu dinilai lamban. Di sisi lain, kebutuhan energi listrik terus meningkat seiring pembangunan kawasan industri baru di daerah.

"Ini sudah 2,5 tahun, kita tidak melihat kemajuan yang signifikan sampai sekarang. PPA (Power Purchase Agreement) yang besar hingga 600 megawatt, belum terlihat berjalan secara fisik," ujar Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahean.

Ferdinand menyayangkan proyek pembangunan pembangkit listrik yang sebagian besar diserahkan kepada produsen lisrtik swasta (IPP), lebih banyak masih berkutat pasa masalah dana dan pembebasan lahan.

Lambatnya pembangunan proyek 35 GW, menurut Ferdinand, tak lepas dari lemahnya pengawasan pemerintah, terutama setalah IPP menandatangani perjanjian pembelian listri (PPA) hingga finansial closing. "Bicara solusi sebenarnya agak terlambat, mestinya dari awal kita mendesak kepada pemerintah. Ini progress-nya harus dipantau benar-benar," ujarnya.

Sementara itu, catatan PT PLN (Persero), yang ambil bagian dalam proyek 35 GW. pembangunan proyek besar kelistrikan disebutkan telah sesuai dengan perencanaan. Namun PLN mengakui hingga semester I/2017 baru 758 MW pembangkit listrik yang sudah beroperasi.

Sekitar 14.193 MW atau sekitar 40 persennya sudah masuk tahap konstruksi, 8.550 MW  atau 24 persennya sudah PPA, namun belum konstruksi. Sisanya, sebanyak 5.155 MW (14%) masih tahap pengadaan dan 7.170 MW (20%) baru dalam tahap perencanaan. kbc11

Bagikan artikel ini: