Ayo dong, semua menanti bank pangkas bunga kredit

Selasa, 29 Agustus 2017 | 07:22 WIB ET
(ilustrasi)
(ilustrasi)

BANK Indonesia (BI) belum lama ini telah menurunkan suku bunga acuan BI 7-days repo rate dari 4,75% menjadi 4,5%. Nah, kini saatnya dunia perbankan cepat merespons dengan menurunkan suku bunga kredit. Penurunan bunga kredit diharapkan menjadi pelumas di tengah masih stagnannya perekonomian nasional.

Tapi kenyataannya, kini industri perbankan tak jua mengoreksi bunga kreditnya. Banyak alasan disodorkan: perlu jeda waktu yang cukup lama dari turunnya suku bunga acuan ke penurunan suku bunga kredit perbankan. Sebab perbankan biasanya menurunkan suku bunga dana pihak ketiga (DPK) seperti deposito terlebih dahulu, sebelum suku bunga kredit.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengaku telah berbicara dengan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso mengenai hal itu. Mereka akan memanggil para bank-bank besar untuk membahas penurunan suku bunga kredit.

"Ada Pak Wimboh, tadi kita ngobrol supaya mereka mulai undang bank-bank besar kalau sudah saatnya. Kan yang dibesarkan oleh bank itu marginnya sehingga profitnya naik. Nah itu yang harus didorong jangan gitu dong, diturunkan lagi," tuturnya di Silang Monas, Jakarta, Minggu (27/8/2017).

Menurut Darmin para perbankan biasanya menurunkan suku bunga DPK terlebih dahulu, dengan begitu margin keuntungan perbankan meningkat karena suku bunga kredit belum turun. Jika margin bunga sudah naik seharusnya perbankan sudah bisa menurunkan suku bunga kreditnya, itu yang akan diminta pemerintah.

"Kita enggak sekedar himbauan tapi enggak memaksa juga. Sebenarnya dari dulu saya dengan Wimboh segala macam sudah lakukan itu panggil satu-satu, eh ini strukturnya biaya Anda begini, harusnya Anda bisa turunin," tegasnya.

Penurunan suku bunga acuan yang dilakukan BI, kata Darmin, sebenarnya karena merespons kondisi makro perekonomian yang kian stabil, seperti inflasi yang rendah. Pihaknya pun mengapresiasi keputusan BI, sebab hal itu sejalan dengan upaya pemerintah mendorong roda perekonomian.

Jika saja perbankan bisa cepat menurunkan suku bunga kreditnya, maka dampaknya terhadap perekonomian akan cepat terasa. Dunia usaha akan kembali bergeliat dengan turunnya suku bunga kredit, alhasil daya beli masyarakat juga akan meningkat.

"Kalau itu terjadi investasi akan naik, tapi konsumsi juga akan berpengaruh. Artinya dengan bunga yang lebih rendah orang tidak akan terlalu berat melepaskan uangnya, dibelanjakan, tapi pengaruhnya lebih besar ke investasi," tukasnya.

 

Menggerakkan Roda Ekonomi

Keputusan BI dalam mengoreksi suku bunga acuan sebenarnya untuk mendorong pertumbuhan kredit perbankan. Sekedar informasi, pertumbuhan kredit hingga paruh pertama tahun 2017 masih belum menggembirakan. Pertumbuhan kredit per Juni 2017 hanya tercatat sebesar 7,8 persen secara tahunan (yoy).

Terkait penurunan suku bunga acuan BI tersebut, Direktur Utama Bank DKI Kresno Sediarsi menyatakan, perbankan perlu menyesuaikan penurunan suku bunga acuan BI. Pasalnya, penurunan suku bunga juga harus diikuti pelonggaran di pasar keuangan.

Menurut Kresno, pelonggaran kebijakan melalui jalur suku bunga saja tidak cukup. Diperlukan pula komponen kebijakan lain yang harus diterbitkan bank sentral.

"Pelonggaran-pelonggaran lain yang bisa mendukung pertumbuhan kredit. Kalau tidak, nanti jadi kurang cepat efeknya," kata Kresno.

Dorongan kebijakan yang dimaksud Kresno adalah misalnya pelonggaran giro wajib mininum (GWM). Selain itu, BI juga bisa menerbitkan aturan terkait Loan to Value (LTV) yang bisa membantu menggenjot kredit, dari sisi properti maupun kendaraan bermotor.

Direktur Keuangan Bank Tabungan Negara (BTN) Iman Nugroho Soeko mengatakan, BI 7 Day RR Rate menjadi pedoman perseroan untuk menurunkan tingkat suku bunga deposito tertinggi. "Ya karena itu kan suku bunga acuan BI," ujarnya.

Menurutnya, bila suku bunga deposito turun akan berdampak ke cost of fund. "Jika cost of fund menurun tentu diikuti dengan penurunan suku bunga kredit yang setara dengan penurunan cost of fund," jelas Iman.

Sebelumnya, Gubernur BI Agus DW Martowardojo menyatakan, pihaknya meminta perbankan untuk segera merespon penurunan suku bunga acuan. Caranya tentu saja dengan menurunkan suku bunga kredit. Melalui cara ini, pertumbuhan kredit bisa lebih terpacu pada tahun 2017 ini dan 2018 mendatang.

Agus menjelaskan, saat ini suku bunga kredit berada pada kisaran 11,73 persen per Juli 2017. Angka ini turun 4 basis poin dibandingkan bulan sebelumnya.

"Suku bunga kredit turun lambat karena ada NPL (rasio kredit bermasalah) yang meningkat. Sehingga, suku bunga kreditnya turun lama. Dengan penurunan BI 7-day Repo Rate ini bisa mendorong bank menurunkan suku bunga kredit yang nantinya dapat menopang pertumbuhan kredit," jelas Agus. kbc9

 

Bagikan artikel ini: