Pemprov Jatim rayu investor Thailand bangun pabrik kelapa

Rabu, 30 Agustus 2017 | 08:32 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pemerintah Provinsi Jawa Timur menawarkan kepada investor Thailand untuk membangun pabrik kelapa di Jatim.

Hal itu diungkapkan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf saat menerima Dubes Thailand untuk Indonesia Pitchayapant Charnbhumibol di Kantor Gubernur Jatim Jl Pahlawan No 110 Surabaya, Selasa (29/8/2017).

Wagub Jatim menyebut, dari data yang dimiliki Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jatim, kelapa menjadi salah satu komoditas yang cukup banyak diekspor ke Thailand.

"Melihat potensi tersebut, sebaiknya investor Thailand mendirikan pabrik kelapa di Jatim. Sehingga ketika dibawa ke Thailand, produk sudah setengah jadi atau jadi," katanya melalui siaran persnya, Selasa (29/8/2017).

Gus Ipul, sapaan akrab Wagub Jatim menyampaikan, komoditas ekspor utama Jatim ke Thailand antara lain tembaga, lemak, dan minyak hewan/nabati, bahan kimia organik, palstik dan barang dari plastik, kertas/karton, berbagai produk kimia, dan buah-buahan. Selain itu, kendaraan dan bagiannya, kaca dan barang dari kaca, serta benda-benda dari besi dan baja. Sedangkan potensi ekspornya mencapai US$244 juta.

Untuk menarik investasi Thailand, Pemprov Jatim memberikan garansi empat hal, di antaranya perizinan yang transparan, persiapan tanah industrial estate seluas 27 ribu hektare di Jatim, surplus power plan energi di Jatim.

"Hubungan Jatim dan Thailand semakin meningkat. Kalau bisa lebih banyak kerjasama lagi terutama bidang perdagangan. Sehingga kita bisa menjadi negara yang bisa mengatasi era globalisasi," ujar Gus Ipul.

Gus Ipul menjelaskan, salah satu komoditas perdagangan yang potensial untuk diekspor ke Thailand adalah buah-buahan. Berdasarkan data Pusdatin Kemendag hingga Juni 2017, komoditas buah-buahan Jatim yang diekspor ke Thailand mencapai 8,10 juta dolar AS dengan berat 31.002 ton.

"Jatim mempunyai buah yang potensial. Jadi yang paling utama adalah bagaimana kita menyediakan buah-buahan yang sesuai standar Thailand. Ini adalah peluang yang cukup baik untuk Jatim," jelasnya.

Gus Ipul juga memaparkan kondisi neraca perdagangan Jatim – Thailand selama kurun waktu 2013-2017 menunjukkan defisit bagi Jatim.

Pada 2015, Jatim mengalami defisit perdagangan dengan Thailand sebesar 459,16 juta dolar AS. Rinciannya, ekspor Jatim ke Thailand mencapai 404,11 juta dolar AS dan impor dari Thailand mencapai 863,27 juta dolar AS. Sedangkan pada 2016, defisit perdagangan Jatim dengan Thailand mencapai 461,50 juta dolar AS dengan rincian ekspor mencapai 425,96 juta dolar AS dan impor mencapai 887,46 juta dolar AS.

Selama periode 2013-2017, perkembangan ekspor Jatim ke Thailand mengalami fluktuatif dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 10,53 persen. Rata-rata share-nya terhadap total ekspor Jatim selama periode tersebut sebesar 2,78 persen per tahun.

Untuk perkembangan nilai impor non migas Jatim dari Thailand selama kurun waktu 2013-2017 cenderung menurun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 5,51 persen per tahun dengan rata-rata sharenya terhadap total impor Jatim sebesar 5,24 persen pada periode yang sama.

Berbagai peluang kerja sama telah dikembangkan kedua belah pihak. Ini membuat Gus Ipul bersama Dubes Thailand untuk Indonesia menggagas dibentuknya kerjasama sister province antara Jatim dengan Thailand.

Hubungan sister province ini bisa dilakukan antara Jatim dengan salah satu provinsi yang dimiliki Thailand dengan karakter yang sama. Provinsi yang diinginkan kerjasama dengan Jatim adalah memiliki kesamaan ditopang oleh berbasis industri, perdagangan, dan pertanian.

Sementara itu, Dubes Thailand untuk Indonesia Pitchayapant Charnbhumibol menyatakan menerima kerjasama yang baik antara Thailand dengan Jatim. "Kerjasama bisa dilakukan pada bidang perdagangan, investasi, agrikultur, pariwisata, pendidikan. Selain itu juga bisa dikembangkan sister province antara Jatim dengan salah satu provinsi di Thailand," ucapnya. kbc10

Bagikan artikel ini: