HIPMI ragukan kemampuan pemerintah turunkan gini rasio

Rabu, 30 Agustus 2017 | 15:53 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ketua Himpungan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bahlil Lahadalia meragukan angka gini ratio (ketimpangan kemiskinan) dapat ditekan lagi oleh pemerintah tahun ini. Hal itu karena beberapa program dan kebijakan pemerintah untuk menurunkan rasio gini ratio masih bertolak belakang.

Sebagai contoh program pemerataan ekonomi kemasyarakatan khususnya di daerah yang belum terealisasi. Stimulus dunia usaha masih banyak yang terfokus pada sektor-sektor tertentu dan di wilayah tertentu.Kalapun di wilayah dan sektor lain sudah berjalan namun dianggapnya belum maksimal terutama stimulus dalam hal kemudahan perizinan dan stimulus modal usaha terutama yang disalurkan melalui lembaga pembiayaan.

"Sampai kapanpun gini rasio tidak akan teratasi dengan baik kalau perbankan dan lembaga pembiayaan memberikan kreditnya ke A, si  B, si C saja tanpa melihat ada nasabah baru yang kapabel, visioner padahal potensi mereka berkembang besar sekali," kata Bahlil di Jakarta, Rabu (30/8/2017).

Dia meminta pemerintah daerah aktif melakukan upaya reformasi kebijakan yang mengarah kepada pemerataan ekonomi. Menurutnya program nawacita Presiden Jokowi – JK akan berakhir kurang maksimal apabila keterlibatan pemerintah daerah dan pemangku kebijakan lainnya tidak bergerak aktif untuk memeratakan pertumbuhan ekonomi dan menekan gini ratio.

"Solusinya menurut saya sudah saatnya melakukan reformasi (untuk) mendorong pertumbuhan sektor riil tanpa mengabaikan sektor baru, sudah saat nya juga  pengusaha yang baru tumbuh di daerah itu mendapat perhatian khusus, kalau tidak maka tidak ada regenerasi kalau tidak ada regenerasi maka dapat dipastikan kita stag," ungkapnya.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka gini ratio pada Maret 2017 sebesar 0,393 atau hanya turun tipis sebesar 0,001 poin jika dibandingkan dengan gini ratio September 2016 yang mencapai 0,394. Secara nasional, nilai gini ratio Indonesia selama periode 2010-September 2014 terus mengalami fluktuasi dan mulai Maret 2015 hingga Maret 2017 nilainya mulai turun.kbc11

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: