Ingin diserap pasar, UKM dituntut miliki online store sendiri

Senin, 04 September 2017 | 13:42 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Market Shift  atau perpindahan perilaku konsumen, salah satunya dari offline ke online kini telah menjadi tren di bisnis ritel. Perkembangan bisnis online bahkan mampu menggoyahkan sejumlah perusahaan ritel besar.

Beberapa pelaku bisnis offline terlihat cepat bergerak ke online dengan menjadi seller di berbagai marketplace seperti tokopedia, bukalapak, dan sebagainya.

"Sekarang ini eranya networking dan omni-channel. Semua channel digunakan. Selain di marketplace, UKM seharusnya punya onlinse store sendiri, bisa terima order dan pembayaran di websitenya sendiri," kata CEO Omega Soft, Pendopo di Jakarta, baru-baru ini.

Ironisnya, sebagian besar para pelaku UKM tidak memiliki dukungan teknologi digital yang memampukan mereka membuka online store yang mampu menerima e-Payment di website sendiri.

Pendopo mengatakan, sebagai komitmennya yang fokus mendukung dan pemberdayaan sektor UKM nasional, dalam event Franchise Expo di JCC tanggal 8 hingga 10 September mendatang akan memperkenalkan produk Smart Cashier dan Omega POS (Point Of Sale)  yang merupakan software unggulan bagi UKM di Indonesia.

"Para pelaku bisnis UKM yang mempunyai offline shop bisa dengan mudah menjadi online shop, dengan biaya yang sangat terjangkau,” katanya.

Software ini terintegrasi penuh dengan stok gudang dan pembayaran online. "Para pelaku usaha UKM ini juga akan memperoleh manfaat yang bekesinambungan, karena kami mempunyai divisi research and development yang selalu berinovasi sesuai perkembangan zaman.” ungkapnya. kbc10

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: