loading...
Kategori
Aneka BisnisTop Figure
Mode Baca

Fadjroel Rachman, Sang ‘provokator’ anak muda

Online: Rabu, 09 Desember 2009 | 19:57 wib ET

Ini dia tokoh muda yang dalam beberapa pekan terakhir semakin dikenal sebagai pengawal gerakan moral Anti Korupsi. Publik biasa memanggilnya Fadjroel, nama lengkapnya Fadjroel Rachman, kelahiran Banjarmasin, 17 Januari 1964. Di kalangan aktivis, sosok ini terlabel sebagai seorang peneliti, penulis, pengamat politik, dan masih melekat pada dirinya sebagai mantan aktivis mahasiswa 1980-an.

Dia selalu berada di barisan depan setiap ada gerakan moral terkait Anti Korupsi. Misalnya, dalam beberapa pekan terakhir, dimana gonjang-ganjing skandal Bank Century terus disorot, nama Fadjroel termasuk salah satu yang paling nyaring bunyinya ‘mengkoarkan’ betapa naifnya skandal itu—terlebih jika kebijakan bailaout Rp6,7 triliun atas bank besutan Rober Tantular tersebut ternyata dilakukan secara sengaja salah oleh para pengelola kekuasaan.

Nama Fadjroel terus muncul, baik di media elektronik, TV, online, maupun cetak terkait skandal Bank Century dalam beberapa pekan terakhir. Puncaknya, pada peringatan Hari Anti-Korupsi se-dunia, 9 Desember 2009, Fadjroel salah satu motor penggerak massa yang terlibat pada peringatan tersebut.

“Ini adalah Hari Raya Sedunia Anti-Korupsi. Mari semua pihak bersalam-salaman untuk tidak melakukan korupsi, dan yang masih ingin korupsi tidak usaha ikutan bersalaman,” kata Fadjroel di tengah-tengah gelombang massa yang melakukan aksinya di Bundaran HI hingga Lapangan Monas, Jakarta, pada 9 Desember.

Puluhan ribu massa tumplek-blek pada peringatan yang dibungkus dengan istilah Gerakan Indonesia Bersih itu, terdiri dari ratusan kelompok/elemen. Salah satunya –sekaligus sebagai penggerakknya adalah Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi (Kompak) dimana Fadjroel sebagai Koordinatornya.

Adalah Fadjroel Rachman yang sejak lama dikenal memiliki gagasan terkait pemberantasan korupsi dengan Undang Undang Pembuktian Terbalik. Artinya, dengan undang-undang tersebut, pejabat yang diduga melakukan korupsi harus melakukan pembuktian bahwa benar-benar tidak melakukan korupsi. Bahkan dia menantang penguasa untuk segera membuat UU itu jika memang concern terhadap antikorupsi. "Kalau pak SBY mau jadi pahlawan pemberantasan korupsi, maka segera buat UU Pembuktian Terbalik," katanya.

Fadjroel mulai dikenal publik sejak mahasiswa, dan semakin terkenal sejak dirinya secara berani mendeklarasikan Fadjroel Rachman for President 2009. Banyak sekali kegiatan moral dan akademik yang dilibati sosok ini. Misalnya, saat ini dia aktif mengembangkan Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan (Pedoman Indonesia) atau Research Institute of Democracy and Welfare State, dan kerjasama internasional di jaringan Southeast Asian Forum for Democracy, dan Asia Pacific Youth Forum (Tokyo).

Fadjroel juga pernah aktif di Forum Demokrasi, Konfederasi Pemuda dan Mahasiswa Sosialis Indonesia (KPMSI), dan Masyarakat Sosialis Indonesia (MSI/Ketua Badan Pekerja). Kandidat (42 besar) Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Sejumlah penelitian dan artikelnya dibukukan bersama seperti Social Democracy Movement in Indonesia (FES, 2001), May Revolution and Mass Media (Gramedia, 2001), dan Soetan Sjahrir: Guru Bangsa (PDP Guntur 49, 1999). Sosok ini dikenal dekat dengan anak muda, dan sering disebut-sebut dengan julukan Sang Provokator Anak Muda.

Pada masa Orde Baru, sosok ini sempat mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan akibat aktivitasnya menentang pemerintahan Orde Baru semasa menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Fadjroel bersama lima rekannya dipindah-pindah dari penjara satu ke penjara lainnya. Dari tahanan Bakorstanasda, ia dipindah ke penjara Kebonwaru, lalu ke Nusakambangan, dan terakhir di Sukamiskin.

Fadjroel Rachman pernah kuliah di Jurusan Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Program Pascasarjana FE Universitas Indonesia Bidang Manajemen Keuangan dan Moneter, dan menempuh program S3 di Program Pascasarjana FE UI (2008).

Pergaulan dengan buku-buku itu mengantarkan pergaulannya dengan sejumlah budayawan dan intelektual seperti almarhum Soebadio Sastrosumitro, Mochtar Lubis, dan Soedjatmoko. Atas usulan Soedjatmoko pula ia terlibat dalam Forum Pemuda Asia Pasifik di Tokyo sampai sekarang. Pada tahun 1987-1989, tiga tahun setelah kuliah, Fadjroel bersama-sama dengan para aktivis mahasiswa lainnya melakukan advokasi untuk petani Kacapiring dan Badega.

Masih pada masa represif Soeharto, ia ditunjuk menjadi komandan lapangan dalam aksi long march sejauh 60 kilometer dari Kampus ITB menuju Cicalengka. Aksi itu sempat dibubarkan oleh polisi dengan menghujani peserta aksi dengan peluru karet.

Fadjroel bersama kawan-kawannya juga beraksi menolak kedatangan Rudini yang saat itu menjabat sebagai menteri dalam negeri. Buntutnya Fadjroel bersama lima rekan lainnya ditangkap. Mereka mendekam di ruang tahanan Bakorstranasda selama satu tahun sebelum akhirnya dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Ia terlibat Gerakan Lima Agustus ITB (1989) yang menuntut penurunan Soeharto dan menjadi tahanan politik berpindah-pindah 6 penjara termasuk Sukamiskin dan Nusakambangan.

Di balik empat penjara yang dijalaninya, Fadjroel menulis puisi. Puisi-puisi yang dituliskan di balik terali penjara itu kemudian diterbitkan dalam kumpulan puisi Catatan Bawah Tanah. Mochtar Lubis berminat menerbitkan puisi-puisi yang tercantum dalam pledoinya, kecuali dua puisi yang dianggap terlalu keras pada waktu itu.

Ia memilih meniti karier sebagai asisten manajer di Grup Bukaka, tetapi hanya bertahan selama tiga tahun. Ia kemudian merintis usaha sendiri bersama kawan-kawannya sembari melanjutkan aktivisme dan melanjutkan kuliahnya di pascasarjana Universitas Indonesia (UI) bidang studi ekonomi. Ia kembali terjun menjadi aktivis dengan statusnya sebagai anggota presidium Forum Wacana UI, bersama ribuan mahasiswa, kembali menuntut Soeharto turun dari kekuasaannya pada tahun 1998.

Array Kegiatan

Di ITB, aktif dalam kegiatan sastra, pers, kebudayaan, dan kelompok studi, antara lain: Presiden Grup Apresiasi Sastra (GAS), Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyakatan (PSIK), Kodim Sabtu (Kelompok Diskusi Mahasiswa Sabtu), Badan Koordinasi Unit Aktivitas (BKUA) ITB, Komite Pembelaan Mahasiswa (KPM) ITB, Majalah Ganesha ITB (Pendiri dan Ketua Dewan Redaksi), serta Kelompok Sepuluh Bandung.

Pada tanggal 28 Oktober 2007 bertempat di di Gedung Arsip Nasional, Jl. Gajah Mada, Jakarta Barat, Fadjroel Rachman bersama dengan teman-temannya mendeklarasikan Ikrar Kaum Muda Indonesia dengan tema sentral ‘Saatnya Kaum Muda Memimpin.’

Antologi puisinya, Sejarah Lari Tergesa (GPU, 2004) menjadi nominator Khatulistiwa Literary Award 2005. Karya-karya lainnya, Catatan Bawah Tanah (YOI, 1993), Pesta Sastra Indonesia (Kelompok Sepuluh, Bandung, 1985), Dunia Tanpa Peta (Novel, proses penerbitan) dan Republik Tanpa Publik (Pledoi, proses penerbitan).

Itulah Fadjroel. Banyak anak muda mengidolakannya, juga menginginkannya menjadi presiden kelak. Entah, kapan??

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
10/25/2014
12.069
IHSG
10/24/2014
5.073,07
-30,45 (-0,60%)