Hunian terintegrasi TOD diprediksi jadi primadona

Selasa, 12 September 2017 | 16:02 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia Property Watch (IPW) menilai pembangunan hunian terintegrasi dengan moda transportasi publik seperti Transit Oriented Development (TOD) akan jadi primadona ke depannya. Salah satu alasannya adalah kemudahan bagi penghuni di kawasan tersebut.

Direktur Eksekutif IPW Ali Tranghanda mengatakan, masyarakat yang membeli rumah seharga Rp300 jutaan akan merasa kesulitan karena harus membayar ongkos yang mahal untuk biaya transportasinya. Pasalnya banyak hunian yang letaknya masih lumayan jauh dari transportasi publik.

"Belum lagi kalau harus ke Jakarta sama saja jaraknya. Jadi ujung-ujungnya mereka balik lagi ke Jakarta dan kos-kosan lagi. Itu kenapa karena enggak terhubung TOD," kata Ali, di BTN Golden Property Award 2017 di Raffles Hotel, Jalan Prof Dr. Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (11/9/2017).

Menurut dia, pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) harus mulai memikirkan pembangunan hunian terintegrasi. Karenanya pemerintah diminta segera tanggap, apalagi pembangunan infrastruktur banyak yang akan selesai pada 2019 mendatang.

"Ketika 2019 semua infrastruktur itu sudah jadi maka semua TOD juga harus sudah jadi. Permasalahannya saat ini, pemerintah belum tanggap, ketika LRT, MRT jadi, masalahnya harga tanah sudah naik dan itu masalahnya. Jadi harus menggunakan tanah-tanah punya pemerintah," jelas dia.

Dirinya menambahkan, proyek-proyek seperti TOD ini lebih cocok dibangun oleh BUMN dibandingkan dengan swasta. Apalagi insentif pemerintah bisa membuat harga daripada hunian yang dijual lebih terjangkau bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

"Kalau kita bicara public housing itu butuh insentif, butuh subsidi itu pemerintah yang hanya bisa. Swasta kita enggak bisa eh tolong dong bangun yang Rp100 juta-an eggak bisa karena itu adalah market mechanism, ya silakan," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: