INDEF: Cadangan devisa US$128,8 miliar tergolong rapuh

Rabu, 13 September 2017 | 21:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa negara periode Agustus mencapai US$ 128,8 miliar, naik dibandingkan pada bulan sebelumnya sebesar US$ 127,8 miliar .Namun, Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) beranggapan peningkatan tersebut adalah semu belaka.

“Struktur peningkatan cadangan devisa kurang berkualitas lantaran lebih banyak disebabkan oleh aktifitas transaksi finansial,” ujar ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adinegara di Jakarta, Rabu (13/9/2017).

Menurut Bhima  peningkatan devisa dianggap berbobot manakala struktur devisanya lebih banyak disebabkan aktifitas ekspor. Namun yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya ekspor meskipun memiliki andil bagi peningkatan devisa namun strukturnya masih kecil.

Bhima mengatakan devisa negara yang mencapai US$ 128,8 miliar sangat rentan terkuras dalam waktu yang singkat manakala terjadi gejolak ekonomi di negara-negara mitra dagang Indonesia. Sebab pembengkakan devisa lebih banyak karena banyaknya kapital yang masuk ke Indonesia dalam bentuk investasi dan lain sebagainya.

"Basenya bukan ekspor tapi basenya adalah financial yang sebenarnya rapuh walaupun gemuk, ketika ada gejolak sedikit saja dari faktor eksternal yang memicu capital out flow itu cadangan devisa langsung bisa terkuras kaya 2016 lalu saat Trump terpilih kemudian cadangan kita turun US$ 3,5 miliar hanya dalam waktu satu bulan," kata Bhima.

Dikatakan basis devisa yang banyak disebabkan karena hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas ini memang cepat mendapatkan kapital income, namun juga cepat hilang karena faktor-faktor eksternal.Sebab itu kedepan agar ada peningkatan kualitas devisa negara, pemerintah harus merombak struktur devisa dengan mengandalkan hasil ekspor.

Hal yang paling cepat bisa dilakukan adalah dengan mendorong para eksportir yang memarkirkan uangnya di Singapura atau negara lain atas hasil eksporya untuk dapat disimpan di bank-bank domestik. Sebab diketahui saat ini banyak sekali uang milik WNI yang terparkir di berbagai negara yang belum dialihkan ke Indonesia sekalipun pemerintah sudah memberikan fasilitas tax amnesty.

"Harusnya ada sanksi yang tegas agar uang yang di Singapura (dan negara lain) bisa masuk untuk pembangunan infrastruktur, kalau sudah masuk di bank dalam negeri kan bisa nambah likuiditas juga dan kalau lama ada di Indonesia bisa digunakan untuk pembangunan, jadi kita tidak perlu ngemis utang dengan bunga yang berat," tuturnya.

Sebagai informasi, cadangan devisa pada akhir Agustus 2017 tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, cadangan devisa tersebut melampaui standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.kbc11

Bagikan artikel ini: