Innalillahi, 438 orang jamaah asal Indonesia meninggal di Arab Saudi

Kamis, 14 September 2017 | 13:11 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Jamaah haji Indonesia yang meninggal di Arab Saudi hingga kemarin, Rabu (13/9/2017), mencapai 438 orang, lebih banyak sekitar 28% dibandingkan musim haji tahun lalu sebanyak 342 orang.

Adapun tempat meninggal jamaah tersebut di Jeddah sebanyak 5 orang, di Mekah 309 orang, Madinah 37 orang, Arafah 20 orang, dan di Mina 67 orang. Sedangkan 18 orang dari total jamaah meninggal merupakan jamaah haji khusus.

Kepala Seksi Penghubung Kesehatan Daerah Kerja (Daker) Mekah, Ramon Andrias, mengatakan jumlah jamaah haji meninggal itu sudah melewati total angka kematian jamaah haji pada musih haji tahun lalu.

“Bahkan, jumlah yang meninggal mencapai 438 orang ini juga sudah melewati angka kematian jamaah haji pada 2015, di luar korban jatuhnya crane dan musibah Mina,” katanya dalam situs resmi Kementerian Agama, Kamis (14/9/2017).

Dia menjelaskan angka kematian jamaah pada musim haji 2015 sebanyak 491 orang, termasuk lebih dari seratus jemaah wafat karena korban crane dan musibah Mina. Sementara angka kematian jamaah haji pada 2016 berjumlah 342 orang.

Penyebab tingginya tingkat kematian jamaah haji Indonesia, lanjut Ramon, tidak terlepas dari dampak yang ditimbulkan oleh peningkatan kuota haji 2017 yang jauh lebih tinggi dibanding 4 tahun terakhir, pada 2013-2016.

Selama kurun waktu 4 musim penyelenggaraan haji yang lalu, pemerintah Arab Saudi mengurangi kuota haji negara-negara pengirim, termasuk Indonesia, hingga sebesar 20% karena ada kegiatan renovasi Masjidil Haram.

Dengan demikian, lanjutnya, kuota haji Indoneisia selama periode 2013-2016 tersebut , berkurang 20% menjadi hanya 168.800 jamaah haji per musim penyelenggaran ibadah haji.

Sedangkan kuota jamaah haji Indonesia pada 2017 kembali normal menjadi 221.000 orang karena ada tambahan sebanyak 10.000 orang dari kota tahun lalu 211.000 jamaah.

“Jadi wajar lebih tinggi angka kematian jamaah haji Indonesia karena risiko tingginya lebih tinggi [terutama dari usia yang di atas 60 tahun atau karena sakit] dan kuotanya juga lebih tinggi dibanding tahun lalu,” ujarnya.

Ramon juga mengungkapkan cuaca tahun ini yang lebih panas juga menjadi faktor penyebab terjadinya risiko tinggi, seperti suhu di Mekah sekitar 43-46 derajat Celcius dengan riel feel bisa mencapai 50-52 derajat Celcius, dan di Madinah lebih tinggi lagi dengan kelembaban yang rendah.

Untuk itu, lanjutnya, kepada jamaah yang masih berada di Mekah dan Madinah, diminta agar memahami kondisi fisiknya masing-masing, tidak memaksakan diri dalam beraktivitas, serta makan-minum secara teratur dan banyak minum air putih.

“Jamaah sekarang sudah hajian, mungkin sudah ingin pulang, sehingga selera makannya juga mulai berkurang. Tapi, kami ingatkan agar tetap harus makan dan banyak minum,” tegasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: